Cast : Luhan EXO
Jung yoo ki
Kim jong in EXO
Choi min ji
Park ga eun
Genre : fiction,romance
Perhatian: Fancict ini dibuat cuma untuk hiburan semata. kalo ada kesamaan tokoh atau cerita atau muka nya mirip luhan,jangan ngerasa *mulai gaje*
“Setiap hari terasa begitu membosankan, tak ada yang menarik”, pikir seorang gadis muda yang baru berusia 16 tahun itu. “apa aku akan mati karena bosan?”, gadis itu memandang keluar dari balik jendela kelas nya. mendung lagi.
Sekolah itu terletak di sebuah desa yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Udara di desa itu sangat bersih, karena dikelilingi oleh pohon-pohon lebat yang tumbuh subur. Tapi desa ini hanya mendapatkan sinar matahari yang sedikit tiap tahunnya karena letaknya berada di lembah perbukitan.
Jung yoo ki, gadis itu, baru beberapa minggu yang lalu pindah dan bersekolah di desa ini, bahkan dia sudah merasa bosan disana. Mungkin dia merasa rindu dengan kehidupan di kota dan tinggal bersama orang tua nya. Alasan jung yoo ki dipindahkan kesini, karena neneknya hanya tinggal seorang diri setelah kakeknya meninggal satu bulan yang lalu. Jung yoo ki sampai saat ini masih berusaha menghilangkan pikirannya yang memandang semua nya membosankan itu karena ada nenek yang begitu menyayangi nya.
***
Di atas dahan pohon itu,apa itu orang?bagaimana bisa dia berdiri diatas dahan pohon yang paling tinggi itu? Seketika udara berubah menjadi dingin. Aku melihat teman-teman yang lain apa mereka juga melihat orang itu. Apa?tak ada yang menyadarinya, ini aneh. Ketika aku menoleh lagi untuk melihat orang itu, dia tidak ada lagi,bukan...dia berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan, terlihat seperti anjing yang sangat besar! Makhluk itu berlari ke arah kelas ku, seperti anjing ganas yang sedang kelaparan. Aku berteriak sekeras mungkin. Saat itu juga turun hujan lebat dan makhluk itu menghilang di deras nya hujan.
Aku terbangun. Astaga,mimpi yang mengerikan dan membuatku sedikit takut. Sepertinya semua teman-teman ku sudah pulang, diluar hujan pun turun cukup deras, sial, payung ku tertinggal di ruang musik tadi. Aku segera berlari ke ruang musik itu. “siapa yang memainkan piano seindah ini? Tunggu,aku tidak boleh mengganggunya”, nada piano itu membuatku tenang setelah bermimpi buruk tadi. Diam-diam aku mengintip lewat jendela di koridor itu. Seorang laki-laki, kelihatannya juga murid sekolah ini. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Rambutnya berwarna coklat dan agak pirang, aku tidak tahu pasti itu warna apa.
“Hujan nya turun cukup deras ya?”,tiba-tiba laki-laki itu berhenti memainkan piano nya. Aku cukup terkejut, bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanku, padahal aku sudah berusaha untuk tidak bersuara.
“Ah neh,mianhae, aku sudah mengganggu, payung ku seperti nya tertinggal disini.” Aku berdiri didekat pintu dan melihat wajahnya dengan jelas. Aku tidak terlalu mengenal wajahnya, tapi wajahnya cukup tampan, aku mengira dia pasti sangat populer di kalangan para gadis di sekolah ini.
“benarkah?masuklah.”dari suaranya, dia sepertinya sangat baik dan ramah. Aku sudah menemukan payungku.
“jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”. Wajahnya yang serius tiba-tiba berubah jadi tersenyum dan menoleh ke arah ku. Apa maksudnya? Kenapa dia berkata begitu?
.”ngggg...aku pulang dulu payung nya sudah ketemu.”
“ah,neh,hati-hati dijalan.”lalu ia kembali tersenyum. Tunggu,aku baru sadar hujan nya sudah reda. Lalu aku melangkahkan kaki dijalan yang masih basah. Sambil memikirkan ucapannya. Aneh .
***
“Yoo ki...turunlah, nenek sudah membuatkan sup rumput laut untukmu”. Nenek selalu membuat sup rumput laut kesukaanku. Rasanya benar-benar enak.
“Iya nek. Aku akan kebawah sebentar lagi”. Cacing diperutku sudah tak sabar menyantapnya.
“Jadi, apa tadi kau sudah punya teman?”. Nenek menanyakan itu lagi sejak seminggu terakhir.
“Um,ya tentu saja sudah nek”, Aku melahap sup itu. Teman? Kenapa yang terlintas dipikiranku laki-laki di ruang musik tadi? Tidak..tidak...aku tidak mau berteman dengan orang aneh seperti dia. Tapi, permainan piano nya sangat mengagumkan. Ah sudah, lupakan....
“tok..tok..tok”, siapa itu?
“Biar aku yang membukakan pintunya nek”. Aku bergegas membuka pintu, dan... ada seorang laki-laki muda, penampilanya seperti anak petani, badannya tinggi, wajahnya cukup manis. Sepertinya dia seumuran denganku.
“si...siapa? ada perlu apa?”, aku sedikit tergagap.
“maaf, apa nenek ada? Aku disuruh ayahku untuk mengantarkan sayuran ini untuk nenek”.
“oh ya, masuklah”, kemudian laki-laki itu masuk dengan membawa sebuah kotak yang mungkin berisi sayuran itu dan meletakkannya didapur.
“Jong in-ah, bilang kepada ayahmu, nenek berterima kasih sekali”.
“Ya nek, akan aku sampaikan. Aku pulang dulu”.
“Tunggu sebentar, makan lah dulu disini, tadi nenek memasak sup rumput laut”.
“ah,tidak, terima kasih nek, aku baru saja selesai makan”.
Eh,kenapa dia melihat kearah ku?
“Oh iya, Yoo ki perkenalkan dirimu padanya. Jong in, dia cucuku yang baru saja pindah kesini dari kota”.
“Oh, aku Jong in, senang berkenalan denganmu”.
Kenapa dia membungkuk? sopan sekali.
“A..aku Yoo ki, Jung yoo ki.” Aku hanya menjawab singkat.
“Bukankah kalian bersekolah di sekolah yang sama? Yoo ki, berteman baiklah dengan jong in, dia anak yang ramah, ayahnya punya kebun sayuran dan dia sering mengantarkan sayuran itu ke rumah nenek.”
Aku hanya bisa mengangguk dan senyum dengan terpaksa.
Anak laki-laki yang bernama jong in itu sudah pulang. Aku pergi ke kamar untuk tidur. Kasur dan selimut ini terasa sangat nyaman karena cuaca yang cukup dingin.
“Jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”, kalimat itu kembali terngiang dipikiran ku. Aku berusaha memikirkan apa maksudnya. Entahlah, aku sering merasa bosan, apa itu penyebabnya hujan turun? Tidak mungkin. Sambil memikirkan itu, aku tertidur.
***
“Mungkin nenek benar, aku harus punya teman, apa mereka mau berteman denganku? Bagaimana kalau mereka tidak mau? Tapi aku akan berusaha semampuku, hwaiting!”, perang batin sudah menghampiri ku pagi ini.
Setibanya di kelas aku berusaha untuk tersenyum dan menyapa teman-teman yang lain. Tapi ada apa ini? Kenapa mereka melihatku seperti melihat hantu? Aku tidak mengerti.
“Yoo ki, bisa kita bicara sebentar?”, choi min ji, gadis ini kenapa ingin mengajak ku bicara?
“a..ah ya...kenapa?”, tiba-tiba aku merasa gugup
“ikuti aku”. Lalu choi min ji berjalan ke taman dekat kelas ku, aku dibelakang mengikutinya sambil memikirkan apa yang ingin dia bicarakan.
“ehemmm, sepertinya aku harus memberitahu apa yang tidak atau belum kau ketahui”, Min ji mendadak berhenti dan menunjuk ke arah ku.
“eh,,,a,,apa maksudmu?”
“kemarin, apa kau bertemu dan berbicara dengan anak yang bernama Luhan itu?”
“Luhan? Siapa itu? Aku tidak tau.”
“apa kau pura-pura tidak tau? Dia itu yang kau temui di ruang musik kemarin. Sebaik nya kau menjauh dari nya.”, sepertinya min ji serius.
“oh dia, memangnya kenapa? Apa dia hantu?”
“ssstttt, pelankan suara mu, mungkin dia bisa dengar. Aku akan ceritakan padamu, Dulu dia sangat populer dikalangan gadis disekolah,wajahnya tampan, sifatnya juga baik, selain itu dia juga pernah berpacaran dengan seorang murid disekolah ini, namun gadis itu ditemukan tewas dihutan. Saat itu beberapa murid disekolah pernah melihat dia keluar dari hutan dan baju nya penuh dengan darah. Sejak saat itu, Luhan dijauhi oleh orang-orang disekitarnya, dia menutup diri dan jadi pendiam. Tapi, tidak ditemukan bukti yang pasti kalau luhan itu adalah pembunuhnya, begitulah ceritanya.”
“waahhhhh”.
“yaaa!!!kenapa kau malah senang begitu? Terserahmu saja, yang jelas jauhi saja dia, arasseo?”
“hei, tunggu, kenapa kau peduli? Lalu apa aku terlihat seperti akan dekat dengannya? Kenapa kau mengatakannya padaku?”
“aku akan mengatakan rahasia lain padamu, aku...sebenarnya bisa membaca masa depan. Jadi hanya kau yang tau tentang itu.”
“......hwahahahahahhahhaha, kenapa kau jadi ngelantur begitu? A...ap...”
“Sudahlah! kau tak akan percaya padaku...”, min ji tampak sedikit kecewa. Ketika dia hendak pergi, “tu..tunggu,,kau orang pertama yang bercerita denganku sejak aku pindah disini, jadi...kau mau berteman denganku?”, lega rasanya setelah mengatakan itu.
“ya, tentu saja!!! Hei, tadi sebenarnya aku juga akan mengatakan itu, tapi, terima kasih sudah mengatakannya duluan.” Min ji tampak sangat senang. “Aku juga berterima kasih karena sudah menerimaku menjadi temanmu.”
Nenek, hari ini aku benar-benar mendapatkan teman baru.
***
Sial, apa aku terlambat? Bukankah hari ini ada test diruang musik. Aku harus berlari karena sudah tak ada waktu lagi.
“Bruukkkkkk”,
“akkk, maafkan aku, aku sedang terburu bu...”, aku terdiam, sepertinya aku mengenal wajah itu, dia laki-laki diruang musik dan orang yang diceritakan min ji waktu itu, Luhan! Ini sudah seminggu sejak aku terakhir kali bertemu dengannya.
“aku yang seharusnya minta maaf karena tak berhati- hati, oh, kau yang waktu itu bukan? Apa hari ini ada test musik?”, dia bertanya padaku sambil mengambil biola ku yang jatuh tadi.
“Ah ya, maaf, aku harus pergi, seperti nya aku akan terlambat”, Sesaat aku teringat ucapan min ji, dia menyuruhku untuk menjauhinya. Maafkan aku,aku tak bermaksud untuk begitu.
“Ya, sampai jumpa”, dia tersenyum sama seperti terakhir kali aku melihatnya tersenyum. Lalu aku bergegas menuju ruang musik.
“Aku ingin bercerita denganmu, Jung Yoo Ki...” (Luhan)
***
“Untung tadi kau tidak terlambat yoomin. Hahaha.”
“Yakkk!!! Berhenti memanggilku yoomin!”, Min ji memanggilku yoomin sejak dua hari yang lalu, yoo dari nama ku dan min dari namanya, sebaliknya dia menyuruh ku untuk memanggil dia Ji Ki, dia bilang supaya lebih akrab. Hah dasar...
“min ji-ah, aku mau ke perpustakaan sebentar, kau duluan saja ke kelas.”
“ya, aku akan pergi ke kelas sebelah, katanya ada cowok tampan yang populer disana.hahahaha..”
“Astaga...semoga berhasil...hahaha.” Aku segera pergi menuju perpustakaan untuk mencari beberapa buku tentang alat musik. Buku disana lumayan banyak, setiap jam istirahat beberapa siswa akan pergi kesana bahkan untuk sekedar mencari ketenangan. Lalu aku mulai mencari-cari disetiap rak buku, kenapa disudut sana tidak ada orangnya, mungkin aku akan menemukan buku itu disana. Tepat! Tapi kenapa harus dirak paling atas?huft...aku berusaha untuk mengambilnya, tapi tidak bisa, terlalu tinggi...
“tap..tap..tap..”. Ada yang menuju ke arah ku dari belakang. Aku bisa merasakan aura nya cukup aneh dan...dingin. Lalu dia mengambilkan buku yang aku cari tadi.
““Alat musik orchestra?”, ini yang kau cari?”, dia luhan!
“oh, ternyata itu kau, terima kasih ya sudah mengambilkannya.” Aku merasa harus tersenyum.
“Kebetulan aku duduk di sana dan melihat mu. Kau bisa panggil aku luhan, aku dari kelas 2-E.”, luhan memperkenalkan dirinya padaku.
“Aku yoo ki, Jung yoo ki dari kelas 2-A.” Aku masih agak terkejut. Tapi aku pikir dia tak seperti yang orang katakan.
“Ternyata kau juga suka dengan musik, bisa aku tebak kau pasti bisa bermain biola?”
“Tidak, aku belum mahir memainkannya, dan aku bisa tebak kau pasti pintar main piano, karena aku sudah pernah melihatnya hahaha.” Kenapa aku tertawa seperti itu?
“hahaha, benar juga. Aku juga ingin mendengarkanmu bermain biola.” Luhan juga tertawa kecil.
“Bel masuk”
“wah, aku harus kembali ke kelas.” Aku buru buru merapikan buku.
“mmm...apa nanti kita bisa pulang bersama?” Deg!
“Ah...itu...ya...tidak apa apa.” Apa?? Kenapa aku menerima ajakannya? Habislah aku, maaf min ji. Aku hanya sedikit penasaran dengannya.
***
“Ayo pulang? Kenapa kau masih diam disana?”, Min ji menyipitkan matanya. “Astaga...jangan-jangan?” Aku yakin min ji pasti sudah mengetahuinya.
“Tidak apa-apa kan? Aku pasti akan berhati-hati,tenang saja.” Aku meyakinkan Min ji.
“Tidak, aku takut kau...suka padanya.”
“UHUKKKK.”aku terkejut mendengar pernyataannya.. “Hei, mana mungkin? aku hanya ingin menanyakan soal musik kepadanya.”
“Benar ya? Baiklah aku percaya padamu, hati-hati ya yoomin-aahhhh.”
Luhan sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan sepedanya.
“Maaf, apa kau sudah menunggu lama?”
“Tidak, aku juga baru tiba disini, kalau begitu ayo jalan.” Dia jalan dan memegangi sepeda disampingnya.
Aku agak canggung dan berusha mencari topik pembicaraan.
“Sejak umur berapa kau mulai berlatih piano?”
“ngggg...saat aku berumur 8 tahun, bagaimana denganmu?”
“aku baru 4 tahun yang lalu belajar main biola, jadi aku tidak terlalu mahir sepertimu.” Sebenarnya banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya, termasuk kenapa dia selalu sendiri dan apa rumor tentangnya memang benar. Aku mulai sedikit takut.
“Kenapa? Apa kau sakit?”
“tidak,,ah? gerimis? Sepertinya akan turun hujan.”
“Naiklah”. Luhan menyuruhku untuk naik sepedanya. Hujan semakin deras. Dia mengayuh dengan sangat cepat, spontan aku memegang pundak nya agar tak jatuh. Kenapa aku merasa cukup tenang? Setelah sampai dekat rumah, hujannya sudah berhenti.
“Luhan, kau basah kuyup, kenapa tidak ke rumah ku saja dulu?”
“Tidak apa, aku pulang dulu, sampai jumpa.”
“ya, terima kasih sudah mengantarku.” Wajahnya pucat. Dia seperti menahan sakit.wae?
***
“Nenek, aku pulang.” Hah kenapa ada Jong in?
“yoo ki, apa kau kehujanan? Gantilah pakaianmu.”
“iya nek, aku keatas dulu.” Aku masih heran kenapa orang itu datang keisini.
“Yoo ki, sebenarnya nenek akan pergi ke rumah saudara ayahnya Jong in hari ini, saudaranya meninggal dunia tadi siang, jadi nenek pikir kau sebaiknya dirumah saja, lusa nenek akan kembali.”
“oh begitu, ya nek, aku mengerti.”
“Jong in akan menjagamu disini selama nenek pergi.”
“Iya, baiklah. Eh?tunggu?dia?menjagaku disini?oh tidak nek, aku bisa sendiri, nenek tak usah khawatir.”
“Bagaimana nenek tak khawatir, nanti kalau kamu sendirian sangat berbahaya. Jong in itu anak yang baik, percaya lah pada nenek.”
Aku dengan sangat terpaksa menerimanya. Beberapa saat kemudian, ayah jong in datang menjemput nenek dan pergi. Aku kembali ke dalam dan melihatnya sedang menonton televisi.
“jangan lupa kunci pintunya, diluar sangat berbahaya.”
Apa? Aku mulai kesal dengannya dan pergi kekamarku. Huft...menyebalkan sekali orang itu. “Luhan” apa dia baik-baik saja? Kenapa aku memikirkannya?
“dering hape”. Siapa yang menelfonku?
“Min ji? Wae?kenapa menelfonku?”
“hei, sebaiknya kau lihat ke luar sekarang”.
Tunggu, jangan-jangan dia, “kau dirumahku?”
“Pekk-a-boo, aku ingin menginap dirumahmu, boleh ya? cepat bukakan aku pintu.” Syukurlah min ji datang menginap. Ketika aku akan pergi kebawah, sepertinya Jong in yang membukakan pintu.
“OMO...ka...kau...Yoo..yoo min-ah..apa maksudnya ini? Andwaaaaaeeeeee!!!!”
Aku berusaha menenangkan Min ji dan membawanya ke kamarku. Kenapa dia kaget melihat Jong in?
“YAAKKKK!! Yoo min, kau jahat sekali. Kenapa kau tak pernah memberitahuku kalau kalian tinggal bersama?”
“Tinggal bersama?siapa?aku?dan....jong in?, hei kenapa kau berpikiran begitu?” Lalu aku menjelaskan situasi yang sebenarnya yang terjadi kepada min ji.
“Kau tidak tau? Cowok kelas sebelah yang populer yang aku ingin lihat tadi itu,diaaaaa.”
“jinja? Apa dia populer? Aku benar-benar tidak tau. Maafkan aku.”
“Sudahlah, kali ini kumaafkan, hei ayo ke bawah, aku mau mengobrol dengannya.hihihi.”
“Kau saja yang pergi, aku tidak mau, dia itu menyebalkan.”
“Kenapa kau berkata begitu? Ya sudah...aku turun ke ba...”
“Tunggu, ayo cari makan diluar.”
***
Akhirnya kami bertiga pergi keluar, Jong in si menyebalkan itu juga ikut karena nenek melarang ku untuk keluar malam sendiri. Dia berjalan beberapa meter dibelakang kami.
“Yoo min, kenapa dia juga ikut? Apa kalian pacaran?”
“Sekali lagi kau bilang yang aneh-aneh, aku bilang padanya kalau kau suka dia.”
“Hei, jangan begitu, aku masih belum siap.hahahaha”
“huh kau ini.”
Kami makan disebuah kedai ramyun dekat rumah nenek ku.
“Jadi, apa saja yang Luhan katakan saat pulang bersamamu tadi? apa dia menyatakan cinta padamu?hahaha.”
“YAAAA!!! Tutup mulutmu, sudah makan saja”. Aku menutup mulut min ji dengan tanganku. Huft...
Setelah selesai makan, kami kembali ke rumah.
“Hoaaammm...Yoo min-ah, ayo kita tidur, aku sudah mengantuk. Ngggg, Jong in selamat tidur ya...”, Jong in tak meresponnya, bahkan mungkin dia pura-pura tidak mendengarnya.
Sudah jam satu malam, aku tak bisa tidur, sepertinya Min ji sudah terlelap. Dingin sekali, aku baru ingat kalau Jong in tidur di sofa. Aku pergi ke bawah untuk memberinya selimut, dia sudah tidur, yah terpaksa aku menyelimutkannya.
“nggggg...”, Jong in terbangun.
“Ah maaf aku membangunkan mu, aku lupa memberimu selimut.”, huh, kenapa dia terbangun?
“Jangan...jangan dekati pria itu, kalau kau tidak ingin mati.”
“Uh? Apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau mengigau?”, sebenarnya aku tau kalau dia sedang membicarakan Luhan. Apa yang membahayakan dari seorang Luhan? Kenapa semua orang menyuruhku untuk tidak mendekatinya? Aku yakin dia tak melakukannya.
“Kau pasti sudah dengar cerita tentang dia.”
“Ya begitulah, tapi aku tidak terlalu percaya. Kurasa dia bukan orang yang seperti itu, dia sangat baik padaku.”
“huh? Apa kau bodoh? Tentu saja dia baik padamu dan pada akhir nya dia akan mengkhianati dan membu...”
“STOP!!!!”, Sekarang emosi ku sudah melampaui batas. Apa yang dia pikirkan? “Kau itu sudah keterlaluan, Apa pedulimu? Kenapa kau membicarakannya seperti dia adalah seorang pembunuh?” Aku sudah tidak tahan lagi, mataku sudah berair, lalu aku segera pergi ke kamar dan membanting pintu.
“Itu benar, dia monster.”(Jong in)
***
“Yoo min-ah, bangun! Kita bisa terlambat. Hei, sepertinya Jong in sudah pulang ke rumahnya ya? Aku tak melihatnya dibawah.”
Aku terbangun dan teringat kejadian tadi malam. Ah sudahlah, aku tak akan memusingkan hal itu. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Saat berjalan ke kelas, kami melewati kelas 2-E, mataku sibuk mencari-cari nya, tapi kenapa dia tidak ada di kelas. Apa mungkin dia belum datang. Saat jam istirahat aku juga mencarinya di perpustakaan, dia juga tak ada disana. Apa dia tak datang hari ini? Bahkan setelah pulang, aku menunggunya di ruang musik. Tetap saja tidak ada. Aku mulai teringat saat dia mengantarku pulang kemarin, wajahnya pucat dan seperti sedang menahan sakit. Sesaat aku berpikir, aku harus ke rumahnya.
Tapi , siapa yang tau dimana alamat rumahnya? Aku tidak mungkin bertanya pada teman-teman dikelasnya, aku pasti disuruh (lagi) untuk tidak mendekatinya. “Kartu Anggota Perpustakaan”, ya mungkin ada alamatnya disana. Aku pergi menyelinap ke perpustakaan, sepertinya jam segini tidak ada orang lagi. Tepat! Disini ada alamatnya. Aku pergi mencarinya dan bertanya pada beberapa orang, setelah berjalan beberapa menit...
“Hanya hutan...apa aku salah? Kelihatannya tidak ada rumah disekitar sini.”
Aku agak sedikit takut, aku takut tersesat. Langit nya juga mendung. Aku harus bagaimana? Aku terus berjalan menyusuri hutan hutan lebat itu. Itu, disana ada sebuah rumah yang cukup besar. Apa mungkin itu rumahnya? Sebaiknya aku tanya dulu.
“tok tok tok,,,permisi.” Sepertinya ada yang membukakan pintu.
“si...siapa?”, Benar dia Luhan tapi kenapa dia sangat terkejut.
“Ternyata benar ini rumahmu, aku sudah menca....”, Dia memotong perkataanku dan mulai berteriak.
“Apa yang kau lakukan disini? Cepat pulang! Dia memegang pergelangan tanganku dan membawaku lari keluar dari hutan, tampaknya dia sangat marah.
“Tu...tunggu sebentar, aku tidak kuat lagi berlari.”, sepertinya kaki ku agak sedikit sakit. Aku bisa merasakan aura yang dingin dan ada yang mengikuti kami dari belakang.
“Cepat naik ke punggungku!” Luhan berjongkok dan dia menggendongku dipundaknya.
“Tapi...”, Aku terpaksa mengikuti perintahnya.
Ternyata kami sudah berada di dekat sekolah.
“Sudah aman...hosh...hosh...hosh...”, Luhan terlihat sangat pucat, nafasnya jadi tak teratur.
“A...apa kau baik-baik saja?”, aku masih merasa ketakutan.
“Apa kau bodoh? Kenapa pergi ke rumah ku sendirian begitu?”
“aku khawatir tadi kau tidak masuk, apa kau sakit?”
“aku tidak mau kejadian itu terulang lagi...”, dia menangis?
“kejadian apa?”, aku pura-pura bertanya, padahal aku sudah tau kejadian itu. Aku merasa bersalah karena sudah mengingatkannnya tentang itu.
“kau percaya aku yang membunuh gadis itu?”
“te..tentu saja tidak benar, aku yakin kau tidak...”
“Jangan dekati aku lagi, kalau kau tidak ingin seperti dia. Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya, aku pergi dulu.”
Tidak,, Bahkan dia juga menyuruhku untuk tidak mendekatinya. Tanpa sadar aku sudah menangis.
“Yoo min-ahhh,,apa itu kau? Jong in lihat! Itu dia.”
“Benarkah?”
“Yoo min, kau baik-baik saja? Aku sudah tau kejadiannya.”, aku memeluk Min ji sambil menangis.
Sepertinya Min ji menggunakan penglihatannya untuk mencariku lalu dia memberitahu Jong in. Aku bahkan tak kuat untuk berjalan. Akhirnya Jong in menggendongku dipudaknya, seperti dengan luhan tadi. Malam itu aku tidak bisa tidur sampai keesokan harinya.
***
“makan lah,aku membuatkan bubur untukmu.”, Jong in datang kekamarku sambil membawa semangkuk bubur.
“Aku tidak mau makan.”
“Apa kau sudah gila? Kau tidak tidur semalam, sekarang kau juga tidak mau makan?”
“Pergilah, aku mau sendiri.”
“Makanlah buburnya, aku berangkat dulu ke sekolah.”
Aku masih bisa mendengar ucapan luhan tadi malam. Anggap saja tak pernah bertemu sebelumnya? Bagaimana bisa? Aku paham orang lain ingin menjauhinya. Tapi aku bukan mereka. Waktu itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya, aku tidak tahu pasti. Kurasa Luhan menyimpan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Aku tertidur.
“Yoomin, aku datang...eh? dia masih tidur? Inikan sudah jam 3 sore.”
“Min ji, itu kau?”, aku terbangun karena suaranya, aku baru tau sudah tertidur selama 7 jam.
“Kenapa bangun? Tidur saja lagi.”
“Tidak, aku sudah puas tidurnya.”
“Hei kau tau? Tadi ada anak baru di kelas kita, dia sangat cantik tapi sifatnya sedikit sombong.”
“Benarkah? Siapa namanya?”
“Park ga eun, pokoknya wajahnya seperti artis.hahaha”
***
“Setiap hari terasa begitu membosankan, tak ada yang menarik”, sudah 3 hari aku tak ke sekolah, nenek juga sudah dirumah. Hari ini aku akan pergi ke sekolah lagi. Nenek menyuruhku pergi ke sekolah dengan Jong in.
“Bagaiman keadaanmu?”, Jong in bertanya padaku.
“Sudah baikan, kaki ku juga sudah sehat. Hmmm..waktu itu terima kasih ya sudah datang mencari ku.”, Apa yang aku katakan?
“oh ternyata kau bisa juga berterima kasih?hahaha.”
“Kau meledekku?hahaha”, Jong in sebenarnya baik juga. Tapi terkadang agak menyebalkan. “Hei, kau tidak ke kelasmu? Jangan bilang kau akan mengantarku sampai kelas?”
“Siapa bilang aku mengantarmu? Ada yang harus aku lihat sebentar.”
“Aku masuk dulu.” Siapa yang dia lihat? Dia, anak baru itu kan? Kenapa Jong in ingin melihatnya?
***
“Aku Park ga eun, dan kau siapa?”, tiba-tiba anak baru itu menghampiriku dan min ji saat jam istirahat. Dia memang cantik seperti yang dikatakan min ji. Tapi kenapa dia mau berkenalan denganku?
“ah ya, aku jung yoo ki, senang berkenalan denganmu.”, Lalu anak baru itu pergi keluar tanpa mengucapkan apa-apa.
“Hei kenapa cuma kau yang diajaknya berkenalan? Kenapa aku tidak? Aku kan disebelahmu. Aneh sekali.”, ketus min ji.
“Min ji, temani aku ke perpustakaan ya? Aku harus mengembalikan buku ini.”
“ya baiklah. Ayo.”
Sesampainya di perpustakaan.
“Yoomin, aku mau baca buku dulu ya disana?”
“ya pergilah, nanti aku kesana.”. Deg! Aku melihat tempat dimana luhan biasa membaca buku seorang diri, dia disana dengan...anak baru itu! Kenapa mereka bisa begitu dekat? Aku cepat-cepat memalingkan wajahku. Apa dia melihatku. Semoga saja tidak. Setelah selesai mengembalikan buku, aku pergi mengambil salah satu buku dan duduk di sebelah min ji.
“ Kau kenapa? Seperti habis melihat hantu saja.”
“tidak, tadi aku di denda karena terlambat mengembalikan buku selama dua hari.hehehe.” sesaat kemudian aku teringat lagi Luhan dan anak baru itu. Apa hubungan antara mereka? Aku berusaha untuk melupakannya dan kejadian waktu itu.
“Yoomin, apa yang kau pikirkan, dari tadi kau cuma membaca halaman yang itu saja.”
“Ayo ke kelas.”
“Itu Jong in, kenapa dia ke sini?”
“Yoo ki, aku ingin bicara sebentar denganmu, ayo keluar.”
“Ada apa?”
“Kau harus pulang sekarang juga, tadi ayahku menelfon, dia bilang...nenek mu pingsan.”
“Apa? Nenek kenapa?”, Aku tak dapat membendung air mataku. Aku bergegas pulang.
***
Ternyata nenek punya penyakit jantung dan harus dirawat dirumah sakit di kota. Semoga nenek cepat sembuh. Kali ini Min ji yang menemaniku dirumah. Jong in datang sesekali saat malam hari. Aku keluar untuk memberinya teh hangat.
“Kau belum tidur?”, tanya Jong in.
“Belum, tapi min ji sudah tidur sejak tadi. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kau kenal dengan anak baru di kelas ku itu?”
“uhuukkk...YAKKKK!!! teh nya terlalu panas, kau mau membunuhku?”
“maaf. Jadi, siapa dia?”
“Dia juga termasuk orang yang harus kau hindari.”
“Kau selalu saja menyuruhku menghindari orang ini, jauhi orang itu. Memangnya kenapa kau bisa tau kalau orang itu berbahaya atau tidak?”
“Aku lahir dengan insting seperti itu. Aku bisa membedakannya hanya dalam sekali lihat. Siapa mereka, dan bagaimana sifat mereka.”
“Aku jadi merasa aneh. Kenapa orang disekitarku punya suatu kemampuan yang luar biasa? Min ji juga bisa melihat masa depan. Sepertinya cuma aku yang tidak punya apa-apa. Benar kan?”
“Tidak juga. Kau hanya belum menyadari apa yang kau punya. Karena kau terlalu bodoh untuk menyadarinya...hahaha.”
“Kau mau aku siram pakai teh ini? ih menyebalkan sekali! aku masuk.”
“Jangan lupa kunci pintu.”
***
Hari ini hujan lagi. Aku pergi ke ruang musik untuk bermain biola.
“Permainan biola mu sangat bagus.”
“oh, Park ga eun, sejak kapan kau berdiri di sana?”
“Sejak kau mulai memainkan biolamu tadi.”
“ah, aku masih belum mahir.”
“Aku benci hujan, bagaimana denganmu?”
“Karna disini sering hujan, aku jadi terbiasa. Kenapa kau benci hujan?”
“Karna kami tidak bisa apa-apa kalau hujan turun.”
“Kami?...”
“Hei, bagaimana kelihatannya cincin ini? Apakah jelek?”
“Tidak. Itu bagus sekali. Cocok denganmu.”
“Ini, cincin tunanganku dengan..Luhan. jangan sampai ada yang tau ya?”
Glekkkk...”a...ah, kau sudah tunangan?”
“Ya, aku dijodohkan orangtua kami, makanya aku pindah kesini, kau kenal luhan?”
“ah, tidak ju...”
“oh, kapan-kapan akan ku kenalkan dia padamu, dia dari kelas 2-E.”
“oh, iya.”, apa-apaan ini?
“Yoo ki, aku kembali ke kelas dulu ya. Oh iya, kita teman kan?”
“um...ya tentu saja.”, aku memaksa untuk tersenyum.
“kapan-kapan aku akan bercerita denganmu lagi. Bye.”
Aku terpaku beberapa saat setelah Park ga eun meninggalkan ruang musik. Kenapa hati ku sakit? Apa ini sebabnya dia tak ingin aku menemuinya lagi? Jahat sekali. Aku berusaha membendung air mataku.
***
“Yoomin, ayo ganti baju, pelajaran olahraga akan segera dimulai. Kau kenapa lagi? Seperti tak bernyawa.”
“Ya tunggu sebentar.”
Aku merasa seperti ditelan bumi. Tunangan ya? Apa itu? Apa artinya mereka nanti akan menikah? Ahhhhh, apa yang aku pikirkan?
Aku sudah selesai mengganti baju dan pergi ke lapangan di sekolah.
“Yoo ki, awaaassss!!!!” “kyaaaaaa.”
“braaakkkkkk.” Bola itu tepat mengenai kepalaku.
“kau baik-baik saja? Biar aku...”
“tidak min ji, aku saja yang mengantarnya ke ruang kesehatan.”
“park ga eun?”
Park ga eun mengantarku ke UKS.
“kau baik-baik saja? Tadi kau terlihat lesu. Ini, letakkan diatas kepalamu.”, dia memberiku kantong es untuk mendinginkan kepala ku.
“terima kasih.”
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Tidak, aku sedang memikirkan nenek ku yang sedang dirawat di rumah sakit.”
“Benarkah? Semoga dia cepat sembuh ya. Sekarang tidak apa kan aku tinggal?”
“Ya, terima kasih.”
“sama-sama.”
Park ga eun, dia cukup baik, kenapa Jong in juga melarang ku dekat dengannya? Tapi, aku juga merasa agak aneh dengannya. Akkkk, kepala ku benar-benar sakit.
Tiba-tiba saja, air mata ku keluar, tak bisa berhenti. Semakin deras, kenapa? Aku tidak akan menangis hanya karena dilempar bola. Tapi aku tak pernah merasa sesakit ini. Tangis ku meledak. Aku ketiduran.
“yoo mi...omo,luh...”
“sssttttt...”
“Kenapa orang aneh itu disini? kenapa dia pergi? Jangan-jangan...yoomi!!! ah, ternyata dia tidur. Aneh, apa yang dia lakukan disini?”
***
Setelah pulang kerumah...
“Apa Yoo ki sudah mendingan?”
“kau tenang saja Jong in, aku akan merawatnya. Hmmm, kau tidak tanya bagaimana kabarku?”
“Untuk apa?”
“Soal nya kau tak pernah menanyakan kabarku.”
“Memangnya kau kenapa? Untuk apa aku menanyakan kabarmu?”
“aargghhh, kau ini cuek sekali padaku. Menggemaskan!”
“Cewek aneh.”
“(putus asa)”
“yoomin!! Kau sudah baikan?”
“ya, aku sudah tidak apa-apa”
“oh ya, apa tadi kau dan luhan ngobrol di uks?”
“ngobrol dengan luhan di uks? Tidak ada. Memangnya kenapa?”
“tadi, sewaktu aku mau masuk untuk melihatmu, dia berdiri di dekat pintu, lalu dia pergi karena melihatku datang, sepertinya dia mengkhawatirkanmu yoomin.”
“benarkah? Mungkin dia ingin mengambil obat disana. Mana aku tau.”
“tidak mungkin begitu, kau saja waktu dia sakit kemarin sampai pergi kerumahnya.”
“jangan ingatkan aku tentang kejadian itu lagi min.”
“ah, maafkan aku.”
“tak apa. Aku hanya ingin melupakannya.”
***
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, rasanya baru kemarin musim semi, sekarang musim itu sudah datang lagi. Aku sudah naik kelas 3. Nenek telah pergi meninggalkanku untuk selamanya, sekitar dua bulan yang lalu karena sakit jantungnya. Sampai saat ini aku masih larut dalam kesedihan. Ibu pernah menyuruhku untuk kembali ke kota, tapi aku bilang aku akan tetap disini sampai aku tamat sekolah. Untung saja Min ji mau tinggal bersama ku disini namun kadang-kadang dia juga pergi menginap ke rumahnya.
Pagi itu dihalaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang melihat pembagian kelas di sebuah papan tulis.
“yoomin, bagaimana kalau kita tidak sekelas? Apa aku masih temanmu?”, min ji mulai ngelantur.
“apa yang kau katakan? Memangnya tidak sekelas jadi tidak teman lagi? Lagi pula kita masih bisa juga ketemu dirumah. Kau ini ada-ada saja Ji ki.”
“senang nya kau panggil aku begitu. Kenapa tidak dari dulu? Haha. Yuk kita lihat kesana juga.”
Setelah sibuk mencari-cari nama,
“Ji ki-ah, aku di kelas 3B, kau dimana?”
“Benarkah? Tunggu sebentar, yaaaa!!! Kita sekelas lagi! Ah syukurlah, aku tau kita tak akan terpisah.Yeah.” Min ji bersorak kegirangan seperti habis menang undian. “Tunggu dulu,hei Jong in juga sekelas! Lalu...park ga eun,huft...Yoomin, Luhan juga ada dikelas kita.”
“mmm...ayo ke kelas.”, kenapa Luhan juga di kelas 3B? Aku...tak berani lagi melihatnya.
“Yoo ki! Kita sekelas lagi? Wah, pasti akan menyenangkan, benarkan luhan?”
Park ga eun, sejak saat itu tak pernah lepas dari Luhan, sepertinya mereka selalu bersama. Bahkan sekarang ini Ga eun duduk disebelah Luhan di deretan paling belakang.
“um, mohon bantuannya.”, jawab Luhan sambil tersenyum.
“y..ya...aku juga.”, aku membalas senyum nya.
Aku dan Min ji pergi untuk mencari tempat duduk.
“yoomin, kita duduk di dekat Jong in saja disana.”
Aku duduk dibarisan ketiga di dekat dinding, dibelakangku ada Jong in dan disebelahku ada Min ji. Hari ini self study, karena guru-guru sedang rapat. Kelas jadi ribut, aku memutuskan untuk pergi ke ruang musik sendiri. Aku duduk didepan piano sambil menatap keluar jendela. Bosan. Aku menekan tuts-tuts piano itu secara asal, karena aku memang tak bisa memainkannya.
“Mau aku ajarkan?”, tiba-tiba ada suara orang dari belakang, aku tau itu suara siapa,
“Luhan? Ngggg...tidak, aku baru saja akan pergi ke kelas...”, aku benar-benar ingin pergi saat itu juga. Ketika aku sudah didekat pintu...
“Kau menghindariku kan? Aku tau ini salahku, tapi saat itu aku benar-benar tak ingin kau terluka...”
“Kau bahkan melukaiku.”, aku pergi meninggalkannya. Apa yang barusan aku katakan? Aku serasa ingin memukulkan kepalaku ini ke dinding. Sebaiknya aku pergi mencuci muka ke toilet, mungkin ini akan meredakannya.
“Yoo ki, kau dari mana? Tadi kulihat tidak ada di kelas?”, tak sengaja bertemu ga eun di sini membuatku semakin pusing.
“Aku baru saja dari ruang musik.”
“Sepertinya tadi Luhan bilang dia juga ke sana, apa kau melihatnya?”
“Ah ya, kebetulan ketika aku mau keluar, dia datang.”
“Benarkah? Oh ya, nanti malam aku mengadakan jamuan makan malam dengan keluarga Luhan, Ibuku juga menyuruhku untuk mengundang temanku. Tapi aku tidak punya teman selain kau, kau mau kan pergi kerumah ku nanti?”
ige bwoya??? Kenapa dia mengajakku kesana? Apa yang dia pikirkan?
“Maaf, hari ini aku ada urusan lain, jadi tidak bi...”
“Aku mohon, sekali ini saja, nanti aku akan menjemputmu ya?”
“Tapi...”
“Ayolah, apa kau tidak mau menjadi teman ku? Bukankah waktu itu kau bilang aku temanmu?”
“nggggg....”
***
Malam itu aku mulai panik, bagaimana ini? Aku tidak ingin pergi. Aku takut Luhan akan marah dan benci padaku.
“Yoomin, apa sebaiknya aku menemanimu? Kau tampak gugup.”
“Tidak apa Ji ki, aku akan baik-baik saja...”
“tok..tok..tok”, ada orang diluar. Siapa? Aku bergegas membukakan pintu.
“Park ga eun? Ka..kau sudah datang? Aku bahkan belum bersiap-siap. Dan siapa orang ini?”, aku kaget karena dia sudah datang menjemputku.
“Tidak masalah, dia akan mendandanimu.”
“Apa? Mendandaniku? Tu..tunggu....”
Mereka merias wajahku, dan membawakan aku baju gaun berwarna peach. Setelah selesai aku turun kebawah.
“haaaah...Yoomin-ah, kau cantik sekali!!!”, aku merasa malu dan sedikit tidak nyaman. Kenapa Ga eun melakukan ini untuk ku?
“Sudah siap kan? Ayo berangkat.”, kami naik mobilnya, dia memang orang kaya. Dimobil, aku bertanya pada ga eun.
“hmmm..kenapa kau melakukan ini untukku? Bukankah ini pestamu?”
“Karena kau temanku.”, dia menjawab singkat dan melihat keluar jendela mobil.
***
“Jong in? Kau sudah datang?”
“Ya, mana Yoo ki?”
“Ah...itu,, dia menyuruhku untuk tak mengatakannya padamu.hehehe”
“Aku sedang tak ingin bercanda. Cepat katakan dimana dia?”
“Dia baru saja pergi ke rumah ga eun untuk makan mal...he..hei, Jong in? Kau mau kemana?YAAKKKK?? Ada apa sih? Kenapa dia lari begitu?”
Aku pergi ke sarang monster (Jong in)
***
“Kita sudah sampai, turunlah.”, Park ga eun menyuruhku untuk keluar. Wow, rumahnya bagus dan besar sekali.
“I...ini rumah mu? Wahhh, bagus sekali.”
Aku berjalan mengikuti ga eun dari belakang, tapi aura aneh mulai menghantuiku, aku tetap tenang dan masuk kedalam rumahnya. Sepertinya semua keluarga nya sudah menunggu didalam dan semua mata tertuju pada kami. Kenapa mereka menatap ku seperti itu? tidak, ada satu orang yang menatapku terkejut, Luhan...
“Maaf, aku terlambat.”, ucap ga eun tersenyum. “Dia teman yang aku bicarakan, Jung Yoo ki.”
“Kau membawa domba kecil kesini ga eun? Sepertinya lezat.hahaha”, ucap seorang perempuan paruh baya.
Apa yang mereka katakan? Aku tidak mengerti. Aku lihat Luhan berjalan ke arah kami, benar, dia pasti akan marah padaku. Maaf. Tapi tiba-tiba, Luhan ditahan oleh seorang pria.
“Luhan, kau mau merusak selera makan ku malam ini? Duduklah lagi.”
“Lepaskan aku!!! Yoo ki, Cepat pergi!!! Paman, biarkan dia pergi, aku mohon!!!!”
Aku begitu terkejut, Luhan berteriak sambil menangis. Aku mulai mengerti situasinya, mereka ingin memakanku? Mereka bukan manusia. Ga eun menahanku ketika aku ingin kabur.
“Ga eun, kenapa kau melakukan ini padaku? Siapa kau sebenarnya?”
“Kau terlalu polos Yoo ki, aku begitu menyukaimu sebagai teman, aku juga menyukai mu sebagai makanan penutup hari ini.hahaha.”
Dari dalam tubuhnya kini , aku bisa merasakan makhluk mengerikan yang sedang kelaparan. Luhan berusaha melepaskan dirinya yang dari tadi ditahan. Luhan berlari ke arah ku, meraih tanganku dan kabur keluar, dibelakang, ga eun dan mungkin beberapa saudaranya mengejar kami.
“Yoo ki, buat hujan turun!”, Tiba-tiba Luhan mengatakan sesuatu saat kami berlari.
“Apa maksudmu? Mana aku bisa?”
“Pikirkan hal yang bisa membuatmu takut, sangat takut. Cepatlah!!”
Kenapa dia mengatakan hal yang aneh? Sesaat aku ingat kata-katanya dulu, “jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”, aku berusaha membayangkan hal yang bisa membuatku takut, seperti sekarang ini, aku mati ketakutan karena dikejar oleh makhluk buas. Gerimis?
“kau berhasil, ini akan memperlambat mereka...dan juga aku.”
Tiba-tiba hujan turun dengan lebat, sepertinya mereka sudah jauh, tunggu, kenapa Luhan menjadi lemah, dia seperti kehilangan tenaga.
“Luhan, ada apa? Kau tidak apa-apa? Berhentilah sebentar.”, Dia tampak pucat, sama seperti ketika aku melihatnya dari mengantarku pulang kerumah waktu itu. Kemudian terdengar suara yang memanggil namaku.
“Jong in!!! Apa itu kau? Aku disini!!!”
“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”
“Ya, tadi kami dikejar oleh makhluk mengerikan itu, sepertinya mereka tak berdaya ketika terkena hujan.”
“baiklah, aku akan mengurus mereka dulu, kau carilah tempat untuk berteduh.”
“Ya,hati-hati.”
Aku memapah Luhan ke sebuah pondok didekat sana.
“Kau baik-baik saja?”
“mmm..”
“Terima kasih sudah menyelamatkan ku, ternyata kau takut terkena hujan ya...? dan...kau serigala...”
“Ya, maaf aku tak bisa menceritakannya padamu. Dulu mereka memaksaku untuk bertunangan dengan Park ga eun, aku tidak mau, karena aku punya seseorang yang aku sukai, mereka pernah mengancamku, jika aku tidak mau maka gadis itu akan mereka lenyapkan. Suatu hari, tanpa aku ketahui, gadis itu pergi ke rumah ku sendirian, saat ditengah hutan mereka menjebak dan membunuhnya. Aku menemukannya berlumuran darah dan aku memeluk nya. Karena itu baju ku juga terkena darahnya...”
Tanpa sadar, air mataku sudah jatuh.
“Jadi kau marah waktu aku datang kerumahmu sendiri itu...”
“Ya...waktu itu mereka gagal menangkapmu, jadi sepertinya mereka juga kembali merencanakannya tadi.”
Awalnya aku begitu terkejut menyadari kalau mereka adalah wolf. Tapi Luhan tidak seperti mereka, dia baik. Dia juga bilang kalau dia dan orang tua nya tidak menyerang manusia. Syukurlah.
***
Beberapa bulan telah berlalu, setelah kejadian itu, aku dan yang lainnya berusaha menghilangkan rumor buruk tentang Luhan di sekolah. Sepertinya cukup berhasil karena kini luhan mulai membuka diri lagi. Dia juga sering memainkan piano di acara sekolah dan mengajar less piano di ruang musik. Park ga eun? Jong in bilang, gadis itu tidak akan muncul lagi disekolah dan desa ini. Sangat melegakan.
“Yoomin, 3 hari lagi kita akan ujian akhir dan tamat. Kau mau melanjutkan ke mana?”
“Aku masih belum tau. Aku ingin jadi pemain biola. Tapi ibu menyuruhku untuk masuk ke sekolah bisnis. Kau bagaimana?”
“Aku ingin ikut denganmu juga. Aku tidak mau pisah dari mu yoomin.”
“Hei, mana bisa begitu? Kau harus melanjutkan ke tempat yang kau inginkan juga.”
“Aku tidak mau...weeeekkk,hahaha”
“Hei, ayo ke ruang musik.”
Seperti biasa, saat pulang sekolah, kami mampir sebentar ke ruang musik untuk melihat Luhan mengajar piano ke beberpa siswa. Disana juga ada guru seni yang juga mengajar piano dengan Luhan. Aku melihat nya dari luar jendela di koridor.
“Hari ini adalah hari terakhir Luhan mengajar kalian bermain piano, karena sebentar lagi akan ada ujian bagi anak kelas tiga, dan selain itu Luhan juga sudah diterima di sebuah universitas di Paris tanpa tes masuk, dia akan belajar tentang musik disana selama tiga tahun.”, Deg!
Dia tak pernah memberitahuku tentang ini. Kenapa? Aku terdiam disana, seperti nya dia melihatku, karena mendengar suara Min ji yang ada disampingku. Aku segera pergi dari sana, tapi dia mengejarku.
“Yoo ki, tunggu sebentar.”, Aku berhenti dan berbalik.
“Ah itu selamat ya?”, Aku berusaha agar tak menangis, “sejak kapan kau tau kalau kau diterima disana?”
“sejak 4 bulan yang lalu, tapi aku tidak berani mengata...”
“Jadi kapan kau akan mengatakannya padaku?”
“mmm, saat selesai ujian nanti. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Kau pikir aku akan marah? Tentu saja kau harus pergi. Inikan cita-citamu?, aku berusaha untuk memberinya semangat dan menahan rasa sedih ku.
“Itu...kau mau kan menungguku selama tiga tahun? Aku akan kembali kesini setelah lulus.”
Aku terkejut mendengarnya, “um, ya, aku akan menunggumu.”, lalu dia memberiku sebuah kalung.
“Kalung itu akan menjagamu. Dan...tidak akan ada laki-laki lain yang mau mendekatimu selain aku.”
“eeeh?”
“hahaha, aku hanya bercanda.”
“YAAKKKK!!! Awas yaaaaa?”
*The end*
Rabu, 06 November 2013
my first fanfiction
eng ing eng !!! *bersih-bersihin blog* ada yang kangen kah dengan diriku yang mungkin udah 2 tahun ga nongol diblog?? ada Luhan wokehhh, kali ini gw balik lagi dengan segudang cerita yang semakin gaje. akhir-akhir ini exo demam, eh maksudnya lagi demam exo. ntah sejak kapan ya? tauklah, yg penting luhan milik gw...*ditabok*
dan kayaknya udah pada ga sabar ya buat nge post ini fanfiction pertama gw, satu-satunya didunia dan paling mutakhir (?!)....cekidot aja deh, karna udah lama ga nulis beginian, gw masih rada2 kagok...Happy Reading CHU~~~
Fanfiction : Rain And Wolf
Cast : Luhan EXO
Jung yoo ki
Kim jong in EXO
Choi min ji
Park ga eun
Genre : fiction,romance
Perhatian: Fancict ini dibuat cuma untuk hiburan semata. kalo ada kesamaan tokoh atau cerita atau muka nya mirip luhan,jangan ngerasa *mulai gaje*
“Setiap hari terasa begitu membosankan, tak ada yang menarik”, pikir seorang gadis muda yang baru berusia 16 tahun itu. “apa aku akan mati karena bosan?”, gadis itu memandang keluar dari balik jendela kelas nya. mendung lagi.
Sekolah itu terletak di sebuah desa yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Udara di desa itu sangat bersih, karena dikelilingi oleh pohon-pohon lebat yang tumbuh subur. Tapi desa ini hanya mendapatkan sinar matahari yang sedikit tiap tahunnya karena letaknya berada di lembah perbukitan.
Jung yoo ki, gadis itu, baru beberapa minggu yang lalu pindah dan bersekolah di desa ini, bahkan dia sudah merasa bosan disana. Mungkin dia merasa rindu dengan kehidupan di kota dan tinggal bersama orang tua nya. Alasan jung yoo ki dipindahkan kesini, karena neneknya hanya tinggal seorang diri setelah kakeknya meninggal satu bulan yang lalu. Jung yoo ki sampai saat ini masih berusaha menghilangkan pikirannya yang memandang semua nya membosankan itu karena ada nenek yang begitu menyayangi nya.
***
Di atas dahan pohon itu,apa itu orang?bagaimana bisa dia berdiri diatas dahan pohon yang paling tinggi itu? Seketika udara berubah menjadi dingin. Aku melihat teman-teman yang lain apa mereka juga melihat orang itu. Apa?tak ada yang menyadarinya, ini aneh. Ketika aku menoleh lagi untuk melihat orang itu, dia tidak ada lagi,bukan...dia berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan, terlihat seperti anjing yang sangat besar! Makhluk itu berlari ke arah kelas ku, seperti anjing ganas yang sedang kelaparan. Aku berteriak sekeras mungkin. Saat itu juga turun hujan lebat dan makhluk itu menghilang di deras nya hujan.
Aku terbangun. Astaga,mimpi yang mengerikan dan membuatku sedikit takut. Sepertinya semua teman-teman ku sudah pulang, diluar hujan pun turun cukup deras, sial, payung ku tertinggal di ruang musik tadi. Aku segera berlari ke ruang musik itu. “siapa yang memainkan piano seindah ini? Tunggu,aku tidak boleh mengganggunya”, nada piano itu membuatku tenang setelah bermimpi buruk tadi. Diam-diam aku mengintip lewat jendela di koridor itu. Seorang laki-laki, kelihatannya juga murid sekolah ini. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Rambutnya berwarna coklat dan agak pirang, aku tidak tahu pasti itu warna apa.
“Hujan nya turun cukup deras ya?”,tiba-tiba laki-laki itu berhenti memainkan piano nya. Aku cukup terkejut, bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanku, padahal aku sudah berusaha untuk tidak bersuara.
“Ah neh,mianhae, aku sudah mengganggu, payung ku seperti nya tertinggal disini.” Aku berdiri didekat pintu dan melihat wajahnya dengan jelas. Aku tidak terlalu mengenal wajahnya, tapi wajahnya cukup tampan, aku mengira dia pasti sangat populer di kalangan para gadis di sekolah ini.
“benarkah?masuklah.”dari suaranya, dia sepertinya sangat baik dan ramah. Aku sudah menemukan payungku.
“jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”. Wajahnya yang serius tiba-tiba berubah jadi tersenyum dan menoleh ke arah ku. Apa maksudnya? Kenapa dia berkata begitu?
.”ngggg...aku pulang dulu payung nya sudah ketemu.”
“ah,neh,hati-hati dijalan.”lalu ia kembali tersenyum. Tunggu,aku baru sadar hujan nya sudah reda. Lalu aku melangkahkan kaki dijalan yang masih basah. Sambil memikirkan ucapannya. Aneh .
***
“Yoo ki...turunlah, nenek sudah membuatkan sup rumput laut untukmu”. Nenek selalu membuat sup rumput laut kesukaanku. Rasanya benar-benar enak.
“Iya nek. Aku akan kebawah sebentar lagi”. Cacing diperutku sudah tak sabar menyantapnya.
“Jadi, apa tadi kau sudah punya teman?”. Nenek menanyakan itu lagi sejak seminggu terakhir.
“Um,ya tentu saja sudah nek”, Aku melahap sup itu. Teman? Kenapa yang terlintas dipikiranku laki-laki di ruang musik tadi? Tidak..tidak...aku tidak mau berteman dengan orang aneh seperti dia. Tapi, permainan piano nya sangat mengagumkan. Ah sudah, lupakan....
“tok..tok..tok”, siapa itu?
“Biar aku yang membukakan pintunya nek”. Aku bergegas membuka pintu, dan... ada seorang laki-laki muda, penampilanya seperti anak petani, badannya tinggi, wajahnya cukup manis. Sepertinya dia seumuran denganku.
“si...siapa? ada perlu apa?”, aku sedikit tergagap.
“maaf, apa nenek ada? Aku disuruh ayahku untuk mengantarkan sayuran ini untuk nenek”.
“oh ya, masuklah”, kemudian laki-laki itu masuk dengan membawa sebuah kotak yang mungkin berisi sayuran itu dan meletakkannya didapur.
“Jong in-ah, bilang kepada ayahmu, nenek berterima kasih sekali”.
“Ya nek, akan aku sampaikan. Aku pulang dulu”.
“Tunggu sebentar, makan lah dulu disini, tadi nenek memasak sup rumput laut”.
“ah,tidak, terima kasih nek, aku baru saja selesai makan”.
Eh,kenapa dia melihat kearah ku?
“Oh iya, Yoo ki perkenalkan dirimu padanya. Jong in, dia cucuku yang baru saja pindah kesini dari kota”.
“Oh, aku Jong in, senang berkenalan denganmu”.
Kenapa dia membungkuk? sopan sekali.
“A..aku Yoo ki, Jung yoo ki.” Aku hanya menjawab singkat.
“Bukankah kalian bersekolah di sekolah yang sama? Yoo ki, berteman baiklah dengan jong in, dia anak yang ramah, ayahnya punya kebun sayuran dan dia sering mengantarkan sayuran itu ke rumah nenek.”
Aku hanya bisa mengangguk dan senyum dengan terpaksa.
Anak laki-laki yang bernama jong in itu sudah pulang. Aku pergi ke kamar untuk tidur. Kasur dan selimut ini terasa sangat nyaman karena cuaca yang cukup dingin.
“Jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”, kalimat itu kembali terngiang dipikiran ku. Aku berusaha memikirkan apa maksudnya. Entahlah, aku sering merasa bosan, apa itu penyebabnya hujan turun? Tidak mungkin. Sambil memikirkan itu, aku tertidur.
***
“Mungkin nenek benar, aku harus punya teman, apa mereka mau berteman denganku? Bagaimana kalau mereka tidak mau? Tapi aku akan berusaha semampuku, hwaiting!”, perang batin sudah menghampiri ku pagi ini.
Setibanya di kelas aku berusaha untuk tersenyum dan menyapa teman-teman yang lain. Tapi ada apa ini? Kenapa mereka melihatku seperti melihat hantu? Aku tidak mengerti.
“Yoo ki, bisa kita bicara sebentar?”, choi min ji, gadis ini kenapa ingin mengajak ku bicara?
“a..ah ya...kenapa?”, tiba-tiba aku merasa gugup
“ikuti aku”. Lalu choi min ji berjalan ke taman dekat kelas ku, aku dibelakang mengikutinya sambil memikirkan apa yang ingin dia bicarakan.
“ehemmm, sepertinya aku harus memberitahu apa yang tidak atau belum kau ketahui”, Min ji mendadak berhenti dan menunjuk ke arah ku.
“eh,,,a,,apa maksudmu?”
“kemarin, apa kau bertemu dan berbicara dengan anak yang bernama Luhan itu?”
“Luhan? Siapa itu? Aku tidak tau.”
“apa kau pura-pura tidak tau? Dia itu yang kau temui di ruang musik kemarin. Sebaik nya kau menjauh dari nya.”, sepertinya min ji serius.
“oh dia, memangnya kenapa? Apa dia hantu?”
“ssstttt, pelankan suara mu, mungkin dia bisa dengar. Aku akan ceritakan padamu, Dulu dia sangat populer dikalangan gadis disekolah,wajahnya tampan, sifatnya juga baik, selain itu dia juga pernah berpacaran dengan seorang murid disekolah ini, namun gadis itu ditemukan tewas dihutan. Saat itu beberapa murid disekolah pernah melihat dia keluar dari hutan dan baju nya penuh dengan darah. Sejak saat itu, Luhan dijauhi oleh orang-orang disekitarnya, dia menutup diri dan jadi pendiam. Tapi, tidak ditemukan bukti yang pasti kalau luhan itu adalah pembunuhnya, begitulah ceritanya.”
“waahhhhh”.
“yaaa!!!kenapa kau malah senang begitu? Terserahmu saja, yang jelas jauhi saja dia, arasseo?”
“hei, tunggu, kenapa kau peduli? Lalu apa aku terlihat seperti akan dekat dengannya? Kenapa kau mengatakannya padaku?”
“aku akan mengatakan rahasia lain padamu, aku...sebenarnya bisa membaca masa depan. Jadi hanya kau yang tau tentang itu.”
“......hwahahahahahhahhaha, kenapa kau jadi ngelantur begitu? A...ap...”
“Sudahlah! kau tak akan percaya padaku...”, min ji tampak sedikit kecewa. Ketika dia hendak pergi, “tu..tunggu,,kau orang pertama yang bercerita denganku sejak aku pindah disini, jadi...kau mau berteman denganku?”, lega rasanya setelah mengatakan itu.
“ya, tentu saja!!! Hei, tadi sebenarnya aku juga akan mengatakan itu, tapi, terima kasih sudah mengatakannya duluan.” Min ji tampak sangat senang. “Aku juga berterima kasih karena sudah menerimaku menjadi temanmu.”
Nenek, hari ini aku benar-benar mendapatkan teman baru.
***
Sial, apa aku terlambat? Bukankah hari ini ada test diruang musik. Aku harus berlari karena sudah tak ada waktu lagi.
“Bruukkkkkk”,
“akkk, maafkan aku, aku sedang terburu bu...”, aku terdiam, sepertinya aku mengenal wajah itu, dia laki-laki diruang musik dan orang yang diceritakan min ji waktu itu, Luhan! Ini sudah seminggu sejak aku terakhir kali bertemu dengannya.
“aku yang seharusnya minta maaf karena tak berhati- hati, oh, kau yang waktu itu bukan? Apa hari ini ada test musik?”, dia bertanya padaku sambil mengambil biola ku yang jatuh tadi.
“Ah ya, maaf, aku harus pergi, seperti nya aku akan terlambat”, Sesaat aku teringat ucapan min ji, dia menyuruhku untuk menjauhinya. Maafkan aku,aku tak bermaksud untuk begitu.
“Ya, sampai jumpa”, dia tersenyum sama seperti terakhir kali aku melihatnya tersenyum. Lalu aku bergegas menuju ruang musik.
“Aku ingin bercerita denganmu, Jung Yoo Ki...” (Luhan)
***
“Untung tadi kau tidak terlambat yoomin. Hahaha.”
“Yakkk!!! Berhenti memanggilku yoomin!”, Min ji memanggilku yoomin sejak dua hari yang lalu, yoo dari nama ku dan min dari namanya, sebaliknya dia menyuruh ku untuk memanggil dia Ji Ki, dia bilang supaya lebih akrab. Hah dasar...
“min ji-ah, aku mau ke perpustakaan sebentar, kau duluan saja ke kelas.”
“ya, aku akan pergi ke kelas sebelah, katanya ada cowok tampan yang populer disana.hahahaha..”
“Astaga...semoga berhasil...hahaha.” Aku segera pergi menuju perpustakaan untuk mencari beberapa buku tentang alat musik. Buku disana lumayan banyak, setiap jam istirahat beberapa siswa akan pergi kesana bahkan untuk sekedar mencari ketenangan. Lalu aku mulai mencari-cari disetiap rak buku, kenapa disudut sana tidak ada orangnya, mungkin aku akan menemukan buku itu disana. Tepat! Tapi kenapa harus dirak paling atas?huft...aku berusaha untuk mengambilnya, tapi tidak bisa, terlalu tinggi...
“tap..tap..tap..”. Ada yang menuju ke arah ku dari belakang. Aku bisa merasakan aura nya cukup aneh dan...dingin. Lalu dia mengambilkan buku yang aku cari tadi.
““Alat musik orchestra?”, ini yang kau cari?”, dia luhan!
“oh, ternyata itu kau, terima kasih ya sudah mengambilkannya.” Aku merasa harus tersenyum.
“Kebetulan aku duduk di sana dan melihat mu. Kau bisa panggil aku luhan, aku dari kelas 2-E.”, luhan memperkenalkan dirinya padaku.
“Aku yoo ki, Jung yoo ki dari kelas 2-A.” Aku masih agak terkejut. Tapi aku pikir dia tak seperti yang orang katakan.
“Ternyata kau juga suka dengan musik, bisa aku tebak kau pasti bisa bermain biola?”
“Tidak, aku belum mahir memainkannya, dan aku bisa tebak kau pasti pintar main piano, karena aku sudah pernah melihatnya hahaha.” Kenapa aku tertawa seperti itu?
“hahaha, benar juga. Aku juga ingin mendengarkanmu bermain biola.” Luhan juga tertawa kecil.
“Bel masuk”
“wah, aku harus kembali ke kelas.” Aku buru buru merapikan buku.
“mmm...apa nanti kita bisa pulang bersama?” Deg!
“Ah...itu...ya...tidak apa apa.” Apa?? Kenapa aku menerima ajakannya? Habislah aku, maaf min ji. Aku hanya sedikit penasaran dengannya.
***
“Ayo pulang? Kenapa kau masih diam disana?”, Min ji menyipitkan matanya. “Astaga...jangan-jangan?” Aku yakin min ji pasti sudah mengetahuinya.
“Tidak apa-apa kan? Aku pasti akan berhati-hati,tenang saja.” Aku meyakinkan Min ji.
“Tidak, aku takut kau...suka padanya.”
“UHUKKKK.”aku terkejut mendengar pernyataannya.. “Hei, mana mungkin? aku hanya ingin menanyakan soal musik kepadanya.”
“Benar ya? Baiklah aku percaya padamu, hati-hati ya yoomin-aahhhh.”
Luhan sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan sepedanya.
“Maaf, apa kau sudah menunggu lama?”
“Tidak, aku juga baru tiba disini, kalau begitu ayo jalan.” Dia jalan dan memegangi sepeda disampingnya.
Aku agak canggung dan berusha mencari topik pembicaraan.
“Sejak umur berapa kau mulai berlatih piano?”
“ngggg...saat aku berumur 8 tahun, bagaimana denganmu?”
“aku baru 4 tahun yang lalu belajar main biola, jadi aku tidak terlalu mahir sepertimu.” Sebenarnya banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya, termasuk kenapa dia selalu sendiri dan apa rumor tentangnya memang benar. Aku mulai sedikit takut.
“Kenapa? Apa kau sakit?”
“tidak,,ah? gerimis? Sepertinya akan turun hujan.”
“Naiklah”. Luhan menyuruhku untuk naik sepedanya. Hujan semakin deras. Dia mengayuh dengan sangat cepat, spontan aku memegang pundak nya agar tak jatuh. Kenapa aku merasa cukup tenang? Setelah sampai dekat rumah, hujannya sudah berhenti.
“Luhan, kau basah kuyup, kenapa tidak ke rumah ku saja dulu?”
“Tidak apa, aku pulang dulu, sampai jumpa.”
“ya, terima kasih sudah mengantarku.” Wajahnya pucat. Dia seperti menahan sakit.wae?
***
“Nenek, aku pulang.” Hah kenapa ada Jong in?
“yoo ki, apa kau kehujanan? Gantilah pakaianmu.”
“iya nek, aku keatas dulu.” Aku masih heran kenapa orang itu datang keisini.
“Yoo ki, sebenarnya nenek akan pergi ke rumah saudara ayahnya Jong in hari ini, saudaranya meninggal dunia tadi siang, jadi nenek pikir kau sebaiknya dirumah saja, lusa nenek akan kembali.”
“oh begitu, ya nek, aku mengerti.”
“Jong in akan menjagamu disini selama nenek pergi.”
“Iya, baiklah. Eh?tunggu?dia?menjagaku disini?oh tidak nek, aku bisa sendiri, nenek tak usah khawatir.”
“Bagaimana nenek tak khawatir, nanti kalau kamu sendirian sangat berbahaya. Jong in itu anak yang baik, percaya lah pada nenek.”
Aku dengan sangat terpaksa menerimanya. Beberapa saat kemudian, ayah jong in datang menjemput nenek dan pergi. Aku kembali ke dalam dan melihatnya sedang menonton televisi.
“jangan lupa kunci pintunya, diluar sangat berbahaya.”
Apa? Aku mulai kesal dengannya dan pergi kekamarku. Huft...menyebalkan sekali orang itu. “Luhan” apa dia baik-baik saja? Kenapa aku memikirkannya?
“dering hape”. Siapa yang menelfonku?
“Min ji? Wae?kenapa menelfonku?”
“hei, sebaiknya kau lihat ke luar sekarang”.
Tunggu, jangan-jangan dia, “kau dirumahku?”
“Pekk-a-boo, aku ingin menginap dirumahmu, boleh ya? cepat bukakan aku pintu.” Syukurlah min ji datang menginap. Ketika aku akan pergi kebawah, sepertinya Jong in yang membukakan pintu.
“OMO...ka...kau...Yoo..yoo min-ah..apa maksudnya ini? Andwaaaaaeeeeee!!!!”
Aku berusaha menenangkan Min ji dan membawanya ke kamarku. Kenapa dia kaget melihat Jong in?
“YAAKKKK!! Yoo min, kau jahat sekali. Kenapa kau tak pernah memberitahuku kalau kalian tinggal bersama?”
“Tinggal bersama?siapa?aku?dan....jong in?, hei kenapa kau berpikiran begitu?” Lalu aku menjelaskan situasi yang sebenarnya yang terjadi kepada min ji.
“Kau tidak tau? Cowok kelas sebelah yang populer yang aku ingin lihat tadi itu,diaaaaa.”
“jinja? Apa dia populer? Aku benar-benar tidak tau. Maafkan aku.”
“Sudahlah, kali ini kumaafkan, hei ayo ke bawah, aku mau mengobrol dengannya.hihihi.”
“Kau saja yang pergi, aku tidak mau, dia itu menyebalkan.”
“Kenapa kau berkata begitu? Ya sudah...aku turun ke ba...”
“Tunggu, ayo cari makan diluar.”
***
Akhirnya kami bertiga pergi keluar, Jong in si menyebalkan itu juga ikut karena nenek melarang ku untuk keluar malam sendiri. Dia berjalan beberapa meter dibelakang kami.
“Yoo min, kenapa dia juga ikut? Apa kalian pacaran?”
“Sekali lagi kau bilang yang aneh-aneh, aku bilang padanya kalau kau suka dia.”
“Hei, jangan begitu, aku masih belum siap.hahahaha”
“huh kau ini.”
Kami makan disebuah kedai ramyun dekat rumah nenek ku.
“Jadi, apa saja yang Luhan katakan saat pulang bersamamu tadi? apa dia menyatakan cinta padamu?hahaha.”
“YAAAA!!! Tutup mulutmu, sudah makan saja”. Aku menutup mulut min ji dengan tanganku. Huft...
Setelah selesai makan, kami kembali ke rumah.
“Hoaaammm...Yoo min-ah, ayo kita tidur, aku sudah mengantuk. Ngggg, Jong in selamat tidur ya...”, Jong in tak meresponnya, bahkan mungkin dia pura-pura tidak mendengarnya.
Sudah jam satu malam, aku tak bisa tidur, sepertinya Min ji sudah terlelap. Dingin sekali, aku baru ingat kalau Jong in tidur di sofa. Aku pergi ke bawah untuk memberinya selimut, dia sudah tidur, yah terpaksa aku menyelimutkannya.
“nggggg...”, Jong in terbangun.
“Ah maaf aku membangunkan mu, aku lupa memberimu selimut.”, huh, kenapa dia terbangun?
“Jangan...jangan dekati pria itu, kalau kau tidak ingin mati.”
“Uh? Apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau mengigau?”, sebenarnya aku tau kalau dia sedang membicarakan Luhan. Apa yang membahayakan dari seorang Luhan? Kenapa semua orang menyuruhku untuk tidak mendekatinya? Aku yakin dia tak melakukannya.
“Kau pasti sudah dengar cerita tentang dia.”
“Ya begitulah, tapi aku tidak terlalu percaya. Kurasa dia bukan orang yang seperti itu, dia sangat baik padaku.”
“huh? Apa kau bodoh? Tentu saja dia baik padamu dan pada akhir nya dia akan mengkhianati dan membu...”
“STOP!!!!”, Sekarang emosi ku sudah melampaui batas. Apa yang dia pikirkan? “Kau itu sudah keterlaluan, Apa pedulimu? Kenapa kau membicarakannya seperti dia adalah seorang pembunuh?” Aku sudah tidak tahan lagi, mataku sudah berair, lalu aku segera pergi ke kamar dan membanting pintu.
“Itu benar, dia monster.”(Jong in)
***
“Yoo min-ah, bangun! Kita bisa terlambat. Hei, sepertinya Jong in sudah pulang ke rumahnya ya? Aku tak melihatnya dibawah.”
Aku terbangun dan teringat kejadian tadi malam. Ah sudahlah, aku tak akan memusingkan hal itu. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Saat berjalan ke kelas, kami melewati kelas 2-E, mataku sibuk mencari-cari nya, tapi kenapa dia tidak ada di kelas. Apa mungkin dia belum datang. Saat jam istirahat aku juga mencarinya di perpustakaan, dia juga tak ada disana. Apa dia tak datang hari ini? Bahkan setelah pulang, aku menunggunya di ruang musik. Tetap saja tidak ada. Aku mulai teringat saat dia mengantarku pulang kemarin, wajahnya pucat dan seperti sedang menahan sakit. Sesaat aku berpikir, aku harus ke rumahnya.
Tapi , siapa yang tau dimana alamat rumahnya? Aku tidak mungkin bertanya pada teman-teman dikelasnya, aku pasti disuruh (lagi) untuk tidak mendekatinya. “Kartu Anggota Perpustakaan”, ya mungkin ada alamatnya disana. Aku pergi menyelinap ke perpustakaan, sepertinya jam segini tidak ada orang lagi. Tepat! Disini ada alamatnya. Aku pergi mencarinya dan bertanya pada beberapa orang, setelah berjalan beberapa menit...
“Hanya hutan...apa aku salah? Kelihatannya tidak ada rumah disekitar sini.”
Aku agak sedikit takut, aku takut tersesat. Langit nya juga mendung. Aku harus bagaimana? Aku terus berjalan menyusuri hutan hutan lebat itu. Itu, disana ada sebuah rumah yang cukup besar. Apa mungkin itu rumahnya? Sebaiknya aku tanya dulu.
“tok tok tok,,,permisi.” Sepertinya ada yang membukakan pintu.
“si...siapa?”, Benar dia Luhan tapi kenapa dia sangat terkejut.
“Ternyata benar ini rumahmu, aku sudah menca....”, Dia memotong perkataanku dan mulai berteriak.
“Apa yang kau lakukan disini? Cepat pulang! Dia memegang pergelangan tanganku dan membawaku lari keluar dari hutan, tampaknya dia sangat marah.
“Tu...tunggu sebentar, aku tidak kuat lagi berlari.”, sepertinya kaki ku agak sedikit sakit. Aku bisa merasakan aura yang dingin dan ada yang mengikuti kami dari belakang.
“Cepat naik ke punggungku!” Luhan berjongkok dan dia menggendongku dipundaknya.
“Tapi...”, Aku terpaksa mengikuti perintahnya.
Ternyata kami sudah berada di dekat sekolah.
“Sudah aman...hosh...hosh...hosh...”, Luhan terlihat sangat pucat, nafasnya jadi tak teratur.
“A...apa kau baik-baik saja?”, aku masih merasa ketakutan.
“Apa kau bodoh? Kenapa pergi ke rumah ku sendirian begitu?”
“aku khawatir tadi kau tidak masuk, apa kau sakit?”
“aku tidak mau kejadian itu terulang lagi...”, dia menangis?
“kejadian apa?”, aku pura-pura bertanya, padahal aku sudah tau kejadian itu. Aku merasa bersalah karena sudah mengingatkannnya tentang itu.
“kau percaya aku yang membunuh gadis itu?”
“te..tentu saja tidak benar, aku yakin kau tidak...”
“Jangan dekati aku lagi, kalau kau tidak ingin seperti dia. Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya, aku pergi dulu.”
Tidak,, Bahkan dia juga menyuruhku untuk tidak mendekatinya. Tanpa sadar aku sudah menangis.
“Yoo min-ahhh,,apa itu kau? Jong in lihat! Itu dia.”
“Benarkah?”
“Yoo min, kau baik-baik saja? Aku sudah tau kejadiannya.”, aku memeluk Min ji sambil menangis.
Sepertinya Min ji menggunakan penglihatannya untuk mencariku lalu dia memberitahu Jong in. Aku bahkan tak kuat untuk berjalan. Akhirnya Jong in menggendongku dipudaknya, seperti dengan luhan tadi. Malam itu aku tidak bisa tidur sampai keesokan harinya.
***
“makan lah,aku membuatkan bubur untukmu.”, Jong in datang kekamarku sambil membawa semangkuk bubur.
“Aku tidak mau makan.”
“Apa kau sudah gila? Kau tidak tidur semalam, sekarang kau juga tidak mau makan?”
“Pergilah, aku mau sendiri.”
“Makanlah buburnya, aku berangkat dulu ke sekolah.”
Aku masih bisa mendengar ucapan luhan tadi malam. Anggap saja tak pernah bertemu sebelumnya? Bagaimana bisa? Aku paham orang lain ingin menjauhinya. Tapi aku bukan mereka. Waktu itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya, aku tidak tahu pasti. Kurasa Luhan menyimpan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Aku tertidur.
“Yoomin, aku datang...eh? dia masih tidur? Inikan sudah jam 3 sore.”
“Min ji, itu kau?”, aku terbangun karena suaranya, aku baru tau sudah tertidur selama 7 jam.
“Kenapa bangun? Tidur saja lagi.”
“Tidak, aku sudah puas tidurnya.”
“Hei kau tau? Tadi ada anak baru di kelas kita, dia sangat cantik tapi sifatnya sedikit sombong.”
“Benarkah? Siapa namanya?”
“Park ga eun, pokoknya wajahnya seperti artis.hahaha”
***
“Setiap hari terasa begitu membosankan, tak ada yang menarik”, sudah 3 hari aku tak ke sekolah, nenek juga sudah dirumah. Hari ini aku akan pergi ke sekolah lagi. Nenek menyuruhku pergi ke sekolah dengan Jong in.
“Bagaiman keadaanmu?”, Jong in bertanya padaku.
“Sudah baikan, kaki ku juga sudah sehat. Hmmm..waktu itu terima kasih ya sudah datang mencari ku.”, Apa yang aku katakan?
“oh ternyata kau bisa juga berterima kasih?hahaha.”
“Kau meledekku?hahaha”, Jong in sebenarnya baik juga. Tapi terkadang agak menyebalkan. “Hei, kau tidak ke kelasmu? Jangan bilang kau akan mengantarku sampai kelas?”
“Siapa bilang aku mengantarmu? Ada yang harus aku lihat sebentar.”
“Aku masuk dulu.” Siapa yang dia lihat? Dia, anak baru itu kan? Kenapa Jong in ingin melihatnya?
***
“Aku Park ga eun, dan kau siapa?”, tiba-tiba anak baru itu menghampiriku dan min ji saat jam istirahat. Dia memang cantik seperti yang dikatakan min ji. Tapi kenapa dia mau berkenalan denganku?
“ah ya, aku jung yoo ki, senang berkenalan denganmu.”, Lalu anak baru itu pergi keluar tanpa mengucapkan apa-apa.
“Hei kenapa cuma kau yang diajaknya berkenalan? Kenapa aku tidak? Aku kan disebelahmu. Aneh sekali.”, ketus min ji.
“Min ji, temani aku ke perpustakaan ya? Aku harus mengembalikan buku ini.”
“ya baiklah. Ayo.”
Sesampainya di perpustakaan.
“Yoomin, aku mau baca buku dulu ya disana?”
“ya pergilah, nanti aku kesana.”. Deg! Aku melihat tempat dimana luhan biasa membaca buku seorang diri, dia disana dengan...anak baru itu! Kenapa mereka bisa begitu dekat? Aku cepat-cepat memalingkan wajahku. Apa dia melihatku. Semoga saja tidak. Setelah selesai mengembalikan buku, aku pergi mengambil salah satu buku dan duduk di sebelah min ji.
“ Kau kenapa? Seperti habis melihat hantu saja.”
“tidak, tadi aku di denda karena terlambat mengembalikan buku selama dua hari.hehehe.” sesaat kemudian aku teringat lagi Luhan dan anak baru itu. Apa hubungan antara mereka? Aku berusaha untuk melupakannya dan kejadian waktu itu.
“Yoomin, apa yang kau pikirkan, dari tadi kau cuma membaca halaman yang itu saja.”
“Ayo ke kelas.”
“Itu Jong in, kenapa dia ke sini?”
“Yoo ki, aku ingin bicara sebentar denganmu, ayo keluar.”
“Ada apa?”
“Kau harus pulang sekarang juga, tadi ayahku menelfon, dia bilang...nenek mu pingsan.”
“Apa? Nenek kenapa?”, Aku tak dapat membendung air mataku. Aku bergegas pulang.
***
Ternyata nenek punya penyakit jantung dan harus dirawat dirumah sakit di kota. Semoga nenek cepat sembuh. Kali ini Min ji yang menemaniku dirumah. Jong in datang sesekali saat malam hari. Aku keluar untuk memberinya teh hangat.
“Kau belum tidur?”, tanya Jong in.
“Belum, tapi min ji sudah tidur sejak tadi. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kau kenal dengan anak baru di kelas ku itu?”
“uhuukkk...YAKKKK!!! teh nya terlalu panas, kau mau membunuhku?”
“maaf. Jadi, siapa dia?”
“Dia juga termasuk orang yang harus kau hindari.”
“Kau selalu saja menyuruhku menghindari orang ini, jauhi orang itu. Memangnya kenapa kau bisa tau kalau orang itu berbahaya atau tidak?”
“Aku lahir dengan insting seperti itu. Aku bisa membedakannya hanya dalam sekali lihat. Siapa mereka, dan bagaimana sifat mereka.”
“Aku jadi merasa aneh. Kenapa orang disekitarku punya suatu kemampuan yang luar biasa? Min ji juga bisa melihat masa depan. Sepertinya cuma aku yang tidak punya apa-apa. Benar kan?”
“Tidak juga. Kau hanya belum menyadari apa yang kau punya. Karena kau terlalu bodoh untuk menyadarinya...hahaha.”
“Kau mau aku siram pakai teh ini? ih menyebalkan sekali! aku masuk.”
“Jangan lupa kunci pintu.”
***
Hari ini hujan lagi. Aku pergi ke ruang musik untuk bermain biola.
“Permainan biola mu sangat bagus.”
“oh, Park ga eun, sejak kapan kau berdiri di sana?”
“Sejak kau mulai memainkan biolamu tadi.”
“ah, aku masih belum mahir.”
“Aku benci hujan, bagaimana denganmu?”
“Karna disini sering hujan, aku jadi terbiasa. Kenapa kau benci hujan?”
“Karna kami tidak bisa apa-apa kalau hujan turun.”
“Kami?...”
“Hei, bagaimana kelihatannya cincin ini? Apakah jelek?”
“Tidak. Itu bagus sekali. Cocok denganmu.”
“Ini, cincin tunanganku dengan..Luhan. jangan sampai ada yang tau ya?”
Glekkkk...”a...ah, kau sudah tunangan?”
“Ya, aku dijodohkan orangtua kami, makanya aku pindah kesini, kau kenal luhan?”
“ah, tidak ju...”
“oh, kapan-kapan akan ku kenalkan dia padamu, dia dari kelas 2-E.”
“oh, iya.”, apa-apaan ini?
“Yoo ki, aku kembali ke kelas dulu ya. Oh iya, kita teman kan?”
“um...ya tentu saja.”, aku memaksa untuk tersenyum.
“kapan-kapan aku akan bercerita denganmu lagi. Bye.”
Aku terpaku beberapa saat setelah Park ga eun meninggalkan ruang musik. Kenapa hati ku sakit? Apa ini sebabnya dia tak ingin aku menemuinya lagi? Jahat sekali. Aku berusaha membendung air mataku.
***
“Yoomin, ayo ganti baju, pelajaran olahraga akan segera dimulai. Kau kenapa lagi? Seperti tak bernyawa.”
“Ya tunggu sebentar.”
Aku merasa seperti ditelan bumi. Tunangan ya? Apa itu? Apa artinya mereka nanti akan menikah? Ahhhhh, apa yang aku pikirkan?
Aku sudah selesai mengganti baju dan pergi ke lapangan di sekolah.
“Yoo ki, awaaassss!!!!” “kyaaaaaa.”
“braaakkkkkk.” Bola itu tepat mengenai kepalaku.
“kau baik-baik saja? Biar aku...”
“tidak min ji, aku saja yang mengantarnya ke ruang kesehatan.”
“park ga eun?”
Park ga eun mengantarku ke UKS.
“kau baik-baik saja? Tadi kau terlihat lesu. Ini, letakkan diatas kepalamu.”, dia memberiku kantong es untuk mendinginkan kepala ku.
“terima kasih.”
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Tidak, aku sedang memikirkan nenek ku yang sedang dirawat di rumah sakit.”
“Benarkah? Semoga dia cepat sembuh ya. Sekarang tidak apa kan aku tinggal?”
“Ya, terima kasih.”
“sama-sama.”
Park ga eun, dia cukup baik, kenapa Jong in juga melarang ku dekat dengannya? Tapi, aku juga merasa agak aneh dengannya. Akkkk, kepala ku benar-benar sakit.
Tiba-tiba saja, air mata ku keluar, tak bisa berhenti. Semakin deras, kenapa? Aku tidak akan menangis hanya karena dilempar bola. Tapi aku tak pernah merasa sesakit ini. Tangis ku meledak. Aku ketiduran.
“yoo mi...omo,luh...”
“sssttttt...”
“Kenapa orang aneh itu disini? kenapa dia pergi? Jangan-jangan...yoomi!!! ah, ternyata dia tidur. Aneh, apa yang dia lakukan disini?”
***
Setelah pulang kerumah...
“Apa Yoo ki sudah mendingan?”
“kau tenang saja Jong in, aku akan merawatnya. Hmmm, kau tidak tanya bagaimana kabarku?”
“Untuk apa?”
“Soal nya kau tak pernah menanyakan kabarku.”
“Memangnya kau kenapa? Untuk apa aku menanyakan kabarmu?”
“aargghhh, kau ini cuek sekali padaku. Menggemaskan!”
“Cewek aneh.”
“(putus asa)”
“yoomin!! Kau sudah baikan?”
“ya, aku sudah tidak apa-apa”
“oh ya, apa tadi kau dan luhan ngobrol di uks?”
“ngobrol dengan luhan di uks? Tidak ada. Memangnya kenapa?”
“tadi, sewaktu aku mau masuk untuk melihatmu, dia berdiri di dekat pintu, lalu dia pergi karena melihatku datang, sepertinya dia mengkhawatirkanmu yoomin.”
“benarkah? Mungkin dia ingin mengambil obat disana. Mana aku tau.”
“tidak mungkin begitu, kau saja waktu dia sakit kemarin sampai pergi kerumahnya.”
“jangan ingatkan aku tentang kejadian itu lagi min.”
“ah, maafkan aku.”
“tak apa. Aku hanya ingin melupakannya.”
***
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, rasanya baru kemarin musim semi, sekarang musim itu sudah datang lagi. Aku sudah naik kelas 3. Nenek telah pergi meninggalkanku untuk selamanya, sekitar dua bulan yang lalu karena sakit jantungnya. Sampai saat ini aku masih larut dalam kesedihan. Ibu pernah menyuruhku untuk kembali ke kota, tapi aku bilang aku akan tetap disini sampai aku tamat sekolah. Untung saja Min ji mau tinggal bersama ku disini namun kadang-kadang dia juga pergi menginap ke rumahnya.
Pagi itu dihalaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang melihat pembagian kelas di sebuah papan tulis.
“yoomin, bagaimana kalau kita tidak sekelas? Apa aku masih temanmu?”, min ji mulai ngelantur.
“apa yang kau katakan? Memangnya tidak sekelas jadi tidak teman lagi? Lagi pula kita masih bisa juga ketemu dirumah. Kau ini ada-ada saja Ji ki.”
“senang nya kau panggil aku begitu. Kenapa tidak dari dulu? Haha. Yuk kita lihat kesana juga.”
Setelah sibuk mencari-cari nama,
“Ji ki-ah, aku di kelas 3B, kau dimana?”
“Benarkah? Tunggu sebentar, yaaaa!!! Kita sekelas lagi! Ah syukurlah, aku tau kita tak akan terpisah.Yeah.” Min ji bersorak kegirangan seperti habis menang undian. “Tunggu dulu,hei Jong in juga sekelas! Lalu...park ga eun,huft...Yoomin, Luhan juga ada dikelas kita.”
“mmm...ayo ke kelas.”, kenapa Luhan juga di kelas 3B? Aku...tak berani lagi melihatnya.
“Yoo ki! Kita sekelas lagi? Wah, pasti akan menyenangkan, benarkan luhan?”
Park ga eun, sejak saat itu tak pernah lepas dari Luhan, sepertinya mereka selalu bersama. Bahkan sekarang ini Ga eun duduk disebelah Luhan di deretan paling belakang.
“um, mohon bantuannya.”, jawab Luhan sambil tersenyum.
“y..ya...aku juga.”, aku membalas senyum nya.
Aku dan Min ji pergi untuk mencari tempat duduk.
“yoomin, kita duduk di dekat Jong in saja disana.”
Aku duduk dibarisan ketiga di dekat dinding, dibelakangku ada Jong in dan disebelahku ada Min ji. Hari ini self study, karena guru-guru sedang rapat. Kelas jadi ribut, aku memutuskan untuk pergi ke ruang musik sendiri. Aku duduk didepan piano sambil menatap keluar jendela. Bosan. Aku menekan tuts-tuts piano itu secara asal, karena aku memang tak bisa memainkannya.
“Mau aku ajarkan?”, tiba-tiba ada suara orang dari belakang, aku tau itu suara siapa,
“Luhan? Ngggg...tidak, aku baru saja akan pergi ke kelas...”, aku benar-benar ingin pergi saat itu juga. Ketika aku sudah didekat pintu...
“Kau menghindariku kan? Aku tau ini salahku, tapi saat itu aku benar-benar tak ingin kau terluka...”
“Kau bahkan melukaiku.”, aku pergi meninggalkannya. Apa yang barusan aku katakan? Aku serasa ingin memukulkan kepalaku ini ke dinding. Sebaiknya aku pergi mencuci muka ke toilet, mungkin ini akan meredakannya.
“Yoo ki, kau dari mana? Tadi kulihat tidak ada di kelas?”, tak sengaja bertemu ga eun di sini membuatku semakin pusing.
“Aku baru saja dari ruang musik.”
“Sepertinya tadi Luhan bilang dia juga ke sana, apa kau melihatnya?”
“Ah ya, kebetulan ketika aku mau keluar, dia datang.”
“Benarkah? Oh ya, nanti malam aku mengadakan jamuan makan malam dengan keluarga Luhan, Ibuku juga menyuruhku untuk mengundang temanku. Tapi aku tidak punya teman selain kau, kau mau kan pergi kerumah ku nanti?”
ige bwoya??? Kenapa dia mengajakku kesana? Apa yang dia pikirkan?
“Maaf, hari ini aku ada urusan lain, jadi tidak bi...”
“Aku mohon, sekali ini saja, nanti aku akan menjemputmu ya?”
“Tapi...”
“Ayolah, apa kau tidak mau menjadi teman ku? Bukankah waktu itu kau bilang aku temanmu?”
“nggggg....”
***
Malam itu aku mulai panik, bagaimana ini? Aku tidak ingin pergi. Aku takut Luhan akan marah dan benci padaku.
“Yoomin, apa sebaiknya aku menemanimu? Kau tampak gugup.”
“Tidak apa Ji ki, aku akan baik-baik saja...”
“tok..tok..tok”, ada orang diluar. Siapa? Aku bergegas membukakan pintu.
“Park ga eun? Ka..kau sudah datang? Aku bahkan belum bersiap-siap. Dan siapa orang ini?”, aku kaget karena dia sudah datang menjemputku.
“Tidak masalah, dia akan mendandanimu.”
“Apa? Mendandaniku? Tu..tunggu....”
Mereka merias wajahku, dan membawakan aku baju gaun berwarna peach. Setelah selesai aku turun kebawah.
“haaaah...Yoomin-ah, kau cantik sekali!!!”, aku merasa malu dan sedikit tidak nyaman. Kenapa Ga eun melakukan ini untuk ku?
“Sudah siap kan? Ayo berangkat.”, kami naik mobilnya, dia memang orang kaya. Dimobil, aku bertanya pada ga eun.
“hmmm..kenapa kau melakukan ini untukku? Bukankah ini pestamu?”
“Karena kau temanku.”, dia menjawab singkat dan melihat keluar jendela mobil.
***
“Jong in? Kau sudah datang?”
“Ya, mana Yoo ki?”
“Ah...itu,, dia menyuruhku untuk tak mengatakannya padamu.hehehe”
“Aku sedang tak ingin bercanda. Cepat katakan dimana dia?”
“Dia baru saja pergi ke rumah ga eun untuk makan mal...he..hei, Jong in? Kau mau kemana?YAAKKKK?? Ada apa sih? Kenapa dia lari begitu?”
Aku pergi ke sarang monster (Jong in)
***
“Kita sudah sampai, turunlah.”, Park ga eun menyuruhku untuk keluar. Wow, rumahnya bagus dan besar sekali.
“I...ini rumah mu? Wahhh, bagus sekali.”
Aku berjalan mengikuti ga eun dari belakang, tapi aura aneh mulai menghantuiku, aku tetap tenang dan masuk kedalam rumahnya. Sepertinya semua keluarga nya sudah menunggu didalam dan semua mata tertuju pada kami. Kenapa mereka menatap ku seperti itu? tidak, ada satu orang yang menatapku terkejut, Luhan...
“Maaf, aku terlambat.”, ucap ga eun tersenyum. “Dia teman yang aku bicarakan, Jung Yoo ki.”
“Kau membawa domba kecil kesini ga eun? Sepertinya lezat.hahaha”, ucap seorang perempuan paruh baya.
Apa yang mereka katakan? Aku tidak mengerti. Aku lihat Luhan berjalan ke arah kami, benar, dia pasti akan marah padaku. Maaf. Tapi tiba-tiba, Luhan ditahan oleh seorang pria.
“Luhan, kau mau merusak selera makan ku malam ini? Duduklah lagi.”
“Lepaskan aku!!! Yoo ki, Cepat pergi!!! Paman, biarkan dia pergi, aku mohon!!!!”
Aku begitu terkejut, Luhan berteriak sambil menangis. Aku mulai mengerti situasinya, mereka ingin memakanku? Mereka bukan manusia. Ga eun menahanku ketika aku ingin kabur.
“Ga eun, kenapa kau melakukan ini padaku? Siapa kau sebenarnya?”
“Kau terlalu polos Yoo ki, aku begitu menyukaimu sebagai teman, aku juga menyukai mu sebagai makanan penutup hari ini.hahaha.”
Dari dalam tubuhnya kini , aku bisa merasakan makhluk mengerikan yang sedang kelaparan. Luhan berusaha melepaskan dirinya yang dari tadi ditahan. Luhan berlari ke arah ku, meraih tanganku dan kabur keluar, dibelakang, ga eun dan mungkin beberapa saudaranya mengejar kami.
“Yoo ki, buat hujan turun!”, Tiba-tiba Luhan mengatakan sesuatu saat kami berlari.
“Apa maksudmu? Mana aku bisa?”
“Pikirkan hal yang bisa membuatmu takut, sangat takut. Cepatlah!!”
Kenapa dia mengatakan hal yang aneh? Sesaat aku ingat kata-katanya dulu, “jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”, aku berusaha membayangkan hal yang bisa membuatku takut, seperti sekarang ini, aku mati ketakutan karena dikejar oleh makhluk buas. Gerimis?
“kau berhasil, ini akan memperlambat mereka...dan juga aku.”
Tiba-tiba hujan turun dengan lebat, sepertinya mereka sudah jauh, tunggu, kenapa Luhan menjadi lemah, dia seperti kehilangan tenaga.
“Luhan, ada apa? Kau tidak apa-apa? Berhentilah sebentar.”, Dia tampak pucat, sama seperti ketika aku melihatnya dari mengantarku pulang kerumah waktu itu. Kemudian terdengar suara yang memanggil namaku.
“Jong in!!! Apa itu kau? Aku disini!!!”
“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”
“Ya, tadi kami dikejar oleh makhluk mengerikan itu, sepertinya mereka tak berdaya ketika terkena hujan.”
“baiklah, aku akan mengurus mereka dulu, kau carilah tempat untuk berteduh.”
“Ya,hati-hati.”
Aku memapah Luhan ke sebuah pondok didekat sana.
“Kau baik-baik saja?”
“mmm..”
“Terima kasih sudah menyelamatkan ku, ternyata kau takut terkena hujan ya...? dan...kau serigala...”
“Ya, maaf aku tak bisa menceritakannya padamu. Dulu mereka memaksaku untuk bertunangan dengan Park ga eun, aku tidak mau, karena aku punya seseorang yang aku sukai, mereka pernah mengancamku, jika aku tidak mau maka gadis itu akan mereka lenyapkan. Suatu hari, tanpa aku ketahui, gadis itu pergi ke rumah ku sendirian, saat ditengah hutan mereka menjebak dan membunuhnya. Aku menemukannya berlumuran darah dan aku memeluk nya. Karena itu baju ku juga terkena darahnya...”
Tanpa sadar, air mataku sudah jatuh.
“Jadi kau marah waktu aku datang kerumahmu sendiri itu...”
“Ya...waktu itu mereka gagal menangkapmu, jadi sepertinya mereka juga kembali merencanakannya tadi.”
Awalnya aku begitu terkejut menyadari kalau mereka adalah wolf. Tapi Luhan tidak seperti mereka, dia baik. Dia juga bilang kalau dia dan orang tua nya tidak menyerang manusia. Syukurlah.
***
Beberapa bulan telah berlalu, setelah kejadian itu, aku dan yang lainnya berusaha menghilangkan rumor buruk tentang Luhan di sekolah. Sepertinya cukup berhasil karena kini luhan mulai membuka diri lagi. Dia juga sering memainkan piano di acara sekolah dan mengajar less piano di ruang musik. Park ga eun? Jong in bilang, gadis itu tidak akan muncul lagi disekolah dan desa ini. Sangat melegakan.
“Yoomin, 3 hari lagi kita akan ujian akhir dan tamat. Kau mau melanjutkan ke mana?”
“Aku masih belum tau. Aku ingin jadi pemain biola. Tapi ibu menyuruhku untuk masuk ke sekolah bisnis. Kau bagaimana?”
“Aku ingin ikut denganmu juga. Aku tidak mau pisah dari mu yoomin.”
“Hei, mana bisa begitu? Kau harus melanjutkan ke tempat yang kau inginkan juga.”
“Aku tidak mau...weeeekkk,hahaha”
“Hei, ayo ke ruang musik.”
Seperti biasa, saat pulang sekolah, kami mampir sebentar ke ruang musik untuk melihat Luhan mengajar piano ke beberpa siswa. Disana juga ada guru seni yang juga mengajar piano dengan Luhan. Aku melihat nya dari luar jendela di koridor.
“Hari ini adalah hari terakhir Luhan mengajar kalian bermain piano, karena sebentar lagi akan ada ujian bagi anak kelas tiga, dan selain itu Luhan juga sudah diterima di sebuah universitas di Paris tanpa tes masuk, dia akan belajar tentang musik disana selama tiga tahun.”, Deg!
Dia tak pernah memberitahuku tentang ini. Kenapa? Aku terdiam disana, seperti nya dia melihatku, karena mendengar suara Min ji yang ada disampingku. Aku segera pergi dari sana, tapi dia mengejarku.
“Yoo ki, tunggu sebentar.”, Aku berhenti dan berbalik.
“Ah itu selamat ya?”, Aku berusaha agar tak menangis, “sejak kapan kau tau kalau kau diterima disana?”
“sejak 4 bulan yang lalu, tapi aku tidak berani mengata...”
“Jadi kapan kau akan mengatakannya padaku?”
“mmm, saat selesai ujian nanti. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Kau pikir aku akan marah? Tentu saja kau harus pergi. Inikan cita-citamu?, aku berusaha untuk memberinya semangat dan menahan rasa sedih ku.
“Itu...kau mau kan menungguku selama tiga tahun? Aku akan kembali kesini setelah lulus.”
Aku terkejut mendengarnya, “um, ya, aku akan menunggumu.”, lalu dia memberiku sebuah kalung.
“Kalung itu akan menjagamu. Dan...tidak akan ada laki-laki lain yang mau mendekatimu selain aku.”
“eeeh?”
“hahaha, aku hanya bercanda.”
“YAAKKKK!!! Awas yaaaaa?”
*The end*
Cast : Luhan EXO
Jung yoo ki
Kim jong in EXO
Choi min ji
Park ga eun
Genre : fiction,romance
Perhatian: Fancict ini dibuat cuma untuk hiburan semata. kalo ada kesamaan tokoh atau cerita atau muka nya mirip luhan,jangan ngerasa *mulai gaje*
“Setiap hari terasa begitu membosankan, tak ada yang menarik”, pikir seorang gadis muda yang baru berusia 16 tahun itu. “apa aku akan mati karena bosan?”, gadis itu memandang keluar dari balik jendela kelas nya. mendung lagi.
Sekolah itu terletak di sebuah desa yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Udara di desa itu sangat bersih, karena dikelilingi oleh pohon-pohon lebat yang tumbuh subur. Tapi desa ini hanya mendapatkan sinar matahari yang sedikit tiap tahunnya karena letaknya berada di lembah perbukitan.
Jung yoo ki, gadis itu, baru beberapa minggu yang lalu pindah dan bersekolah di desa ini, bahkan dia sudah merasa bosan disana. Mungkin dia merasa rindu dengan kehidupan di kota dan tinggal bersama orang tua nya. Alasan jung yoo ki dipindahkan kesini, karena neneknya hanya tinggal seorang diri setelah kakeknya meninggal satu bulan yang lalu. Jung yoo ki sampai saat ini masih berusaha menghilangkan pikirannya yang memandang semua nya membosankan itu karena ada nenek yang begitu menyayangi nya.
***
Di atas dahan pohon itu,apa itu orang?bagaimana bisa dia berdiri diatas dahan pohon yang paling tinggi itu? Seketika udara berubah menjadi dingin. Aku melihat teman-teman yang lain apa mereka juga melihat orang itu. Apa?tak ada yang menyadarinya, ini aneh. Ketika aku menoleh lagi untuk melihat orang itu, dia tidak ada lagi,bukan...dia berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan, terlihat seperti anjing yang sangat besar! Makhluk itu berlari ke arah kelas ku, seperti anjing ganas yang sedang kelaparan. Aku berteriak sekeras mungkin. Saat itu juga turun hujan lebat dan makhluk itu menghilang di deras nya hujan.
Aku terbangun. Astaga,mimpi yang mengerikan dan membuatku sedikit takut. Sepertinya semua teman-teman ku sudah pulang, diluar hujan pun turun cukup deras, sial, payung ku tertinggal di ruang musik tadi. Aku segera berlari ke ruang musik itu. “siapa yang memainkan piano seindah ini? Tunggu,aku tidak boleh mengganggunya”, nada piano itu membuatku tenang setelah bermimpi buruk tadi. Diam-diam aku mengintip lewat jendela di koridor itu. Seorang laki-laki, kelihatannya juga murid sekolah ini. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Rambutnya berwarna coklat dan agak pirang, aku tidak tahu pasti itu warna apa.
“Hujan nya turun cukup deras ya?”,tiba-tiba laki-laki itu berhenti memainkan piano nya. Aku cukup terkejut, bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanku, padahal aku sudah berusaha untuk tidak bersuara.
“Ah neh,mianhae, aku sudah mengganggu, payung ku seperti nya tertinggal disini.” Aku berdiri didekat pintu dan melihat wajahnya dengan jelas. Aku tidak terlalu mengenal wajahnya, tapi wajahnya cukup tampan, aku mengira dia pasti sangat populer di kalangan para gadis di sekolah ini.
“benarkah?masuklah.”dari suaranya, dia sepertinya sangat baik dan ramah. Aku sudah menemukan payungku.
“jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”. Wajahnya yang serius tiba-tiba berubah jadi tersenyum dan menoleh ke arah ku. Apa maksudnya? Kenapa dia berkata begitu?
.”ngggg...aku pulang dulu payung nya sudah ketemu.”
“ah,neh,hati-hati dijalan.”lalu ia kembali tersenyum. Tunggu,aku baru sadar hujan nya sudah reda. Lalu aku melangkahkan kaki dijalan yang masih basah. Sambil memikirkan ucapannya. Aneh .
***
“Yoo ki...turunlah, nenek sudah membuatkan sup rumput laut untukmu”. Nenek selalu membuat sup rumput laut kesukaanku. Rasanya benar-benar enak.
“Iya nek. Aku akan kebawah sebentar lagi”. Cacing diperutku sudah tak sabar menyantapnya.
“Jadi, apa tadi kau sudah punya teman?”. Nenek menanyakan itu lagi sejak seminggu terakhir.
“Um,ya tentu saja sudah nek”, Aku melahap sup itu. Teman? Kenapa yang terlintas dipikiranku laki-laki di ruang musik tadi? Tidak..tidak...aku tidak mau berteman dengan orang aneh seperti dia. Tapi, permainan piano nya sangat mengagumkan. Ah sudah, lupakan....
“tok..tok..tok”, siapa itu?
“Biar aku yang membukakan pintunya nek”. Aku bergegas membuka pintu, dan... ada seorang laki-laki muda, penampilanya seperti anak petani, badannya tinggi, wajahnya cukup manis. Sepertinya dia seumuran denganku.
“si...siapa? ada perlu apa?”, aku sedikit tergagap.
“maaf, apa nenek ada? Aku disuruh ayahku untuk mengantarkan sayuran ini untuk nenek”.
“oh ya, masuklah”, kemudian laki-laki itu masuk dengan membawa sebuah kotak yang mungkin berisi sayuran itu dan meletakkannya didapur.
“Jong in-ah, bilang kepada ayahmu, nenek berterima kasih sekali”.
“Ya nek, akan aku sampaikan. Aku pulang dulu”.
“Tunggu sebentar, makan lah dulu disini, tadi nenek memasak sup rumput laut”.
“ah,tidak, terima kasih nek, aku baru saja selesai makan”.
Eh,kenapa dia melihat kearah ku?
“Oh iya, Yoo ki perkenalkan dirimu padanya. Jong in, dia cucuku yang baru saja pindah kesini dari kota”.
“Oh, aku Jong in, senang berkenalan denganmu”.
Kenapa dia membungkuk? sopan sekali.
“A..aku Yoo ki, Jung yoo ki.” Aku hanya menjawab singkat.
“Bukankah kalian bersekolah di sekolah yang sama? Yoo ki, berteman baiklah dengan jong in, dia anak yang ramah, ayahnya punya kebun sayuran dan dia sering mengantarkan sayuran itu ke rumah nenek.”
Aku hanya bisa mengangguk dan senyum dengan terpaksa.
Anak laki-laki yang bernama jong in itu sudah pulang. Aku pergi ke kamar untuk tidur. Kasur dan selimut ini terasa sangat nyaman karena cuaca yang cukup dingin.
“Jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”, kalimat itu kembali terngiang dipikiran ku. Aku berusaha memikirkan apa maksudnya. Entahlah, aku sering merasa bosan, apa itu penyebabnya hujan turun? Tidak mungkin. Sambil memikirkan itu, aku tertidur.
***
“Mungkin nenek benar, aku harus punya teman, apa mereka mau berteman denganku? Bagaimana kalau mereka tidak mau? Tapi aku akan berusaha semampuku, hwaiting!”, perang batin sudah menghampiri ku pagi ini.
Setibanya di kelas aku berusaha untuk tersenyum dan menyapa teman-teman yang lain. Tapi ada apa ini? Kenapa mereka melihatku seperti melihat hantu? Aku tidak mengerti.
“Yoo ki, bisa kita bicara sebentar?”, choi min ji, gadis ini kenapa ingin mengajak ku bicara?
“a..ah ya...kenapa?”, tiba-tiba aku merasa gugup
“ikuti aku”. Lalu choi min ji berjalan ke taman dekat kelas ku, aku dibelakang mengikutinya sambil memikirkan apa yang ingin dia bicarakan.
“ehemmm, sepertinya aku harus memberitahu apa yang tidak atau belum kau ketahui”, Min ji mendadak berhenti dan menunjuk ke arah ku.
“eh,,,a,,apa maksudmu?”
“kemarin, apa kau bertemu dan berbicara dengan anak yang bernama Luhan itu?”
“Luhan? Siapa itu? Aku tidak tau.”
“apa kau pura-pura tidak tau? Dia itu yang kau temui di ruang musik kemarin. Sebaik nya kau menjauh dari nya.”, sepertinya min ji serius.
“oh dia, memangnya kenapa? Apa dia hantu?”
“ssstttt, pelankan suara mu, mungkin dia bisa dengar. Aku akan ceritakan padamu, Dulu dia sangat populer dikalangan gadis disekolah,wajahnya tampan, sifatnya juga baik, selain itu dia juga pernah berpacaran dengan seorang murid disekolah ini, namun gadis itu ditemukan tewas dihutan. Saat itu beberapa murid disekolah pernah melihat dia keluar dari hutan dan baju nya penuh dengan darah. Sejak saat itu, Luhan dijauhi oleh orang-orang disekitarnya, dia menutup diri dan jadi pendiam. Tapi, tidak ditemukan bukti yang pasti kalau luhan itu adalah pembunuhnya, begitulah ceritanya.”
“waahhhhh”.
“yaaa!!!kenapa kau malah senang begitu? Terserahmu saja, yang jelas jauhi saja dia, arasseo?”
“hei, tunggu, kenapa kau peduli? Lalu apa aku terlihat seperti akan dekat dengannya? Kenapa kau mengatakannya padaku?”
“aku akan mengatakan rahasia lain padamu, aku...sebenarnya bisa membaca masa depan. Jadi hanya kau yang tau tentang itu.”
“......hwahahahahahhahhaha, kenapa kau jadi ngelantur begitu? A...ap...”
“Sudahlah! kau tak akan percaya padaku...”, min ji tampak sedikit kecewa. Ketika dia hendak pergi, “tu..tunggu,,kau orang pertama yang bercerita denganku sejak aku pindah disini, jadi...kau mau berteman denganku?”, lega rasanya setelah mengatakan itu.
“ya, tentu saja!!! Hei, tadi sebenarnya aku juga akan mengatakan itu, tapi, terima kasih sudah mengatakannya duluan.” Min ji tampak sangat senang. “Aku juga berterima kasih karena sudah menerimaku menjadi temanmu.”
Nenek, hari ini aku benar-benar mendapatkan teman baru.
***
Sial, apa aku terlambat? Bukankah hari ini ada test diruang musik. Aku harus berlari karena sudah tak ada waktu lagi.
“Bruukkkkkk”,
“akkk, maafkan aku, aku sedang terburu bu...”, aku terdiam, sepertinya aku mengenal wajah itu, dia laki-laki diruang musik dan orang yang diceritakan min ji waktu itu, Luhan! Ini sudah seminggu sejak aku terakhir kali bertemu dengannya.
“aku yang seharusnya minta maaf karena tak berhati- hati, oh, kau yang waktu itu bukan? Apa hari ini ada test musik?”, dia bertanya padaku sambil mengambil biola ku yang jatuh tadi.
“Ah ya, maaf, aku harus pergi, seperti nya aku akan terlambat”, Sesaat aku teringat ucapan min ji, dia menyuruhku untuk menjauhinya. Maafkan aku,aku tak bermaksud untuk begitu.
“Ya, sampai jumpa”, dia tersenyum sama seperti terakhir kali aku melihatnya tersenyum. Lalu aku bergegas menuju ruang musik.
“Aku ingin bercerita denganmu, Jung Yoo Ki...” (Luhan)
***
“Untung tadi kau tidak terlambat yoomin. Hahaha.”
“Yakkk!!! Berhenti memanggilku yoomin!”, Min ji memanggilku yoomin sejak dua hari yang lalu, yoo dari nama ku dan min dari namanya, sebaliknya dia menyuruh ku untuk memanggil dia Ji Ki, dia bilang supaya lebih akrab. Hah dasar...
“min ji-ah, aku mau ke perpustakaan sebentar, kau duluan saja ke kelas.”
“ya, aku akan pergi ke kelas sebelah, katanya ada cowok tampan yang populer disana.hahahaha..”
“Astaga...semoga berhasil...hahaha.” Aku segera pergi menuju perpustakaan untuk mencari beberapa buku tentang alat musik. Buku disana lumayan banyak, setiap jam istirahat beberapa siswa akan pergi kesana bahkan untuk sekedar mencari ketenangan. Lalu aku mulai mencari-cari disetiap rak buku, kenapa disudut sana tidak ada orangnya, mungkin aku akan menemukan buku itu disana. Tepat! Tapi kenapa harus dirak paling atas?huft...aku berusaha untuk mengambilnya, tapi tidak bisa, terlalu tinggi...
“tap..tap..tap..”. Ada yang menuju ke arah ku dari belakang. Aku bisa merasakan aura nya cukup aneh dan...dingin. Lalu dia mengambilkan buku yang aku cari tadi.
““Alat musik orchestra?”, ini yang kau cari?”, dia luhan!
“oh, ternyata itu kau, terima kasih ya sudah mengambilkannya.” Aku merasa harus tersenyum.
“Kebetulan aku duduk di sana dan melihat mu. Kau bisa panggil aku luhan, aku dari kelas 2-E.”, luhan memperkenalkan dirinya padaku.
“Aku yoo ki, Jung yoo ki dari kelas 2-A.” Aku masih agak terkejut. Tapi aku pikir dia tak seperti yang orang katakan.
“Ternyata kau juga suka dengan musik, bisa aku tebak kau pasti bisa bermain biola?”
“Tidak, aku belum mahir memainkannya, dan aku bisa tebak kau pasti pintar main piano, karena aku sudah pernah melihatnya hahaha.” Kenapa aku tertawa seperti itu?
“hahaha, benar juga. Aku juga ingin mendengarkanmu bermain biola.” Luhan juga tertawa kecil.
“Bel masuk”
“wah, aku harus kembali ke kelas.” Aku buru buru merapikan buku.
“mmm...apa nanti kita bisa pulang bersama?” Deg!
“Ah...itu...ya...tidak apa apa.” Apa?? Kenapa aku menerima ajakannya? Habislah aku, maaf min ji. Aku hanya sedikit penasaran dengannya.
***
“Ayo pulang? Kenapa kau masih diam disana?”, Min ji menyipitkan matanya. “Astaga...jangan-jangan?” Aku yakin min ji pasti sudah mengetahuinya.
“Tidak apa-apa kan? Aku pasti akan berhati-hati,tenang saja.” Aku meyakinkan Min ji.
“Tidak, aku takut kau...suka padanya.”
“UHUKKKK.”aku terkejut mendengar pernyataannya.. “Hei, mana mungkin? aku hanya ingin menanyakan soal musik kepadanya.”
“Benar ya? Baiklah aku percaya padamu, hati-hati ya yoomin-aahhhh.”
Luhan sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan sepedanya.
“Maaf, apa kau sudah menunggu lama?”
“Tidak, aku juga baru tiba disini, kalau begitu ayo jalan.” Dia jalan dan memegangi sepeda disampingnya.
Aku agak canggung dan berusha mencari topik pembicaraan.
“Sejak umur berapa kau mulai berlatih piano?”
“ngggg...saat aku berumur 8 tahun, bagaimana denganmu?”
“aku baru 4 tahun yang lalu belajar main biola, jadi aku tidak terlalu mahir sepertimu.” Sebenarnya banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya, termasuk kenapa dia selalu sendiri dan apa rumor tentangnya memang benar. Aku mulai sedikit takut.
“Kenapa? Apa kau sakit?”
“tidak,,ah? gerimis? Sepertinya akan turun hujan.”
“Naiklah”. Luhan menyuruhku untuk naik sepedanya. Hujan semakin deras. Dia mengayuh dengan sangat cepat, spontan aku memegang pundak nya agar tak jatuh. Kenapa aku merasa cukup tenang? Setelah sampai dekat rumah, hujannya sudah berhenti.
“Luhan, kau basah kuyup, kenapa tidak ke rumah ku saja dulu?”
“Tidak apa, aku pulang dulu, sampai jumpa.”
“ya, terima kasih sudah mengantarku.” Wajahnya pucat. Dia seperti menahan sakit.wae?
***
“Nenek, aku pulang.” Hah kenapa ada Jong in?
“yoo ki, apa kau kehujanan? Gantilah pakaianmu.”
“iya nek, aku keatas dulu.” Aku masih heran kenapa orang itu datang keisini.
“Yoo ki, sebenarnya nenek akan pergi ke rumah saudara ayahnya Jong in hari ini, saudaranya meninggal dunia tadi siang, jadi nenek pikir kau sebaiknya dirumah saja, lusa nenek akan kembali.”
“oh begitu, ya nek, aku mengerti.”
“Jong in akan menjagamu disini selama nenek pergi.”
“Iya, baiklah. Eh?tunggu?dia?menjagaku disini?oh tidak nek, aku bisa sendiri, nenek tak usah khawatir.”
“Bagaimana nenek tak khawatir, nanti kalau kamu sendirian sangat berbahaya. Jong in itu anak yang baik, percaya lah pada nenek.”
Aku dengan sangat terpaksa menerimanya. Beberapa saat kemudian, ayah jong in datang menjemput nenek dan pergi. Aku kembali ke dalam dan melihatnya sedang menonton televisi.
“jangan lupa kunci pintunya, diluar sangat berbahaya.”
Apa? Aku mulai kesal dengannya dan pergi kekamarku. Huft...menyebalkan sekali orang itu. “Luhan” apa dia baik-baik saja? Kenapa aku memikirkannya?
“dering hape”. Siapa yang menelfonku?
“Min ji? Wae?kenapa menelfonku?”
“hei, sebaiknya kau lihat ke luar sekarang”.
Tunggu, jangan-jangan dia, “kau dirumahku?”
“Pekk-a-boo, aku ingin menginap dirumahmu, boleh ya? cepat bukakan aku pintu.” Syukurlah min ji datang menginap. Ketika aku akan pergi kebawah, sepertinya Jong in yang membukakan pintu.
“OMO...ka...kau...Yoo..yoo min-ah..apa maksudnya ini? Andwaaaaaeeeeee!!!!”
Aku berusaha menenangkan Min ji dan membawanya ke kamarku. Kenapa dia kaget melihat Jong in?
“YAAKKKK!! Yoo min, kau jahat sekali. Kenapa kau tak pernah memberitahuku kalau kalian tinggal bersama?”
“Tinggal bersama?siapa?aku?dan....jong in?, hei kenapa kau berpikiran begitu?” Lalu aku menjelaskan situasi yang sebenarnya yang terjadi kepada min ji.
“Kau tidak tau? Cowok kelas sebelah yang populer yang aku ingin lihat tadi itu,diaaaaa.”
“jinja? Apa dia populer? Aku benar-benar tidak tau. Maafkan aku.”
“Sudahlah, kali ini kumaafkan, hei ayo ke bawah, aku mau mengobrol dengannya.hihihi.”
“Kau saja yang pergi, aku tidak mau, dia itu menyebalkan.”
“Kenapa kau berkata begitu? Ya sudah...aku turun ke ba...”
“Tunggu, ayo cari makan diluar.”
***
Akhirnya kami bertiga pergi keluar, Jong in si menyebalkan itu juga ikut karena nenek melarang ku untuk keluar malam sendiri. Dia berjalan beberapa meter dibelakang kami.
“Yoo min, kenapa dia juga ikut? Apa kalian pacaran?”
“Sekali lagi kau bilang yang aneh-aneh, aku bilang padanya kalau kau suka dia.”
“Hei, jangan begitu, aku masih belum siap.hahahaha”
“huh kau ini.”
Kami makan disebuah kedai ramyun dekat rumah nenek ku.
“Jadi, apa saja yang Luhan katakan saat pulang bersamamu tadi? apa dia menyatakan cinta padamu?hahaha.”
“YAAAA!!! Tutup mulutmu, sudah makan saja”. Aku menutup mulut min ji dengan tanganku. Huft...
Setelah selesai makan, kami kembali ke rumah.
“Hoaaammm...Yoo min-ah, ayo kita tidur, aku sudah mengantuk. Ngggg, Jong in selamat tidur ya...”, Jong in tak meresponnya, bahkan mungkin dia pura-pura tidak mendengarnya.
Sudah jam satu malam, aku tak bisa tidur, sepertinya Min ji sudah terlelap. Dingin sekali, aku baru ingat kalau Jong in tidur di sofa. Aku pergi ke bawah untuk memberinya selimut, dia sudah tidur, yah terpaksa aku menyelimutkannya.
“nggggg...”, Jong in terbangun.
“Ah maaf aku membangunkan mu, aku lupa memberimu selimut.”, huh, kenapa dia terbangun?
“Jangan...jangan dekati pria itu, kalau kau tidak ingin mati.”
“Uh? Apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau mengigau?”, sebenarnya aku tau kalau dia sedang membicarakan Luhan. Apa yang membahayakan dari seorang Luhan? Kenapa semua orang menyuruhku untuk tidak mendekatinya? Aku yakin dia tak melakukannya.
“Kau pasti sudah dengar cerita tentang dia.”
“Ya begitulah, tapi aku tidak terlalu percaya. Kurasa dia bukan orang yang seperti itu, dia sangat baik padaku.”
“huh? Apa kau bodoh? Tentu saja dia baik padamu dan pada akhir nya dia akan mengkhianati dan membu...”
“STOP!!!!”, Sekarang emosi ku sudah melampaui batas. Apa yang dia pikirkan? “Kau itu sudah keterlaluan, Apa pedulimu? Kenapa kau membicarakannya seperti dia adalah seorang pembunuh?” Aku sudah tidak tahan lagi, mataku sudah berair, lalu aku segera pergi ke kamar dan membanting pintu.
“Itu benar, dia monster.”(Jong in)
***
“Yoo min-ah, bangun! Kita bisa terlambat. Hei, sepertinya Jong in sudah pulang ke rumahnya ya? Aku tak melihatnya dibawah.”
Aku terbangun dan teringat kejadian tadi malam. Ah sudahlah, aku tak akan memusingkan hal itu. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Saat berjalan ke kelas, kami melewati kelas 2-E, mataku sibuk mencari-cari nya, tapi kenapa dia tidak ada di kelas. Apa mungkin dia belum datang. Saat jam istirahat aku juga mencarinya di perpustakaan, dia juga tak ada disana. Apa dia tak datang hari ini? Bahkan setelah pulang, aku menunggunya di ruang musik. Tetap saja tidak ada. Aku mulai teringat saat dia mengantarku pulang kemarin, wajahnya pucat dan seperti sedang menahan sakit. Sesaat aku berpikir, aku harus ke rumahnya.
Tapi , siapa yang tau dimana alamat rumahnya? Aku tidak mungkin bertanya pada teman-teman dikelasnya, aku pasti disuruh (lagi) untuk tidak mendekatinya. “Kartu Anggota Perpustakaan”, ya mungkin ada alamatnya disana. Aku pergi menyelinap ke perpustakaan, sepertinya jam segini tidak ada orang lagi. Tepat! Disini ada alamatnya. Aku pergi mencarinya dan bertanya pada beberapa orang, setelah berjalan beberapa menit...
“Hanya hutan...apa aku salah? Kelihatannya tidak ada rumah disekitar sini.”
Aku agak sedikit takut, aku takut tersesat. Langit nya juga mendung. Aku harus bagaimana? Aku terus berjalan menyusuri hutan hutan lebat itu. Itu, disana ada sebuah rumah yang cukup besar. Apa mungkin itu rumahnya? Sebaiknya aku tanya dulu.
“tok tok tok,,,permisi.” Sepertinya ada yang membukakan pintu.
“si...siapa?”, Benar dia Luhan tapi kenapa dia sangat terkejut.
“Ternyata benar ini rumahmu, aku sudah menca....”, Dia memotong perkataanku dan mulai berteriak.
“Apa yang kau lakukan disini? Cepat pulang! Dia memegang pergelangan tanganku dan membawaku lari keluar dari hutan, tampaknya dia sangat marah.
“Tu...tunggu sebentar, aku tidak kuat lagi berlari.”, sepertinya kaki ku agak sedikit sakit. Aku bisa merasakan aura yang dingin dan ada yang mengikuti kami dari belakang.
“Cepat naik ke punggungku!” Luhan berjongkok dan dia menggendongku dipundaknya.
“Tapi...”, Aku terpaksa mengikuti perintahnya.
Ternyata kami sudah berada di dekat sekolah.
“Sudah aman...hosh...hosh...hosh...”, Luhan terlihat sangat pucat, nafasnya jadi tak teratur.
“A...apa kau baik-baik saja?”, aku masih merasa ketakutan.
“Apa kau bodoh? Kenapa pergi ke rumah ku sendirian begitu?”
“aku khawatir tadi kau tidak masuk, apa kau sakit?”
“aku tidak mau kejadian itu terulang lagi...”, dia menangis?
“kejadian apa?”, aku pura-pura bertanya, padahal aku sudah tau kejadian itu. Aku merasa bersalah karena sudah mengingatkannnya tentang itu.
“kau percaya aku yang membunuh gadis itu?”
“te..tentu saja tidak benar, aku yakin kau tidak...”
“Jangan dekati aku lagi, kalau kau tidak ingin seperti dia. Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya, aku pergi dulu.”
Tidak,, Bahkan dia juga menyuruhku untuk tidak mendekatinya. Tanpa sadar aku sudah menangis.
“Yoo min-ahhh,,apa itu kau? Jong in lihat! Itu dia.”
“Benarkah?”
“Yoo min, kau baik-baik saja? Aku sudah tau kejadiannya.”, aku memeluk Min ji sambil menangis.
Sepertinya Min ji menggunakan penglihatannya untuk mencariku lalu dia memberitahu Jong in. Aku bahkan tak kuat untuk berjalan. Akhirnya Jong in menggendongku dipudaknya, seperti dengan luhan tadi. Malam itu aku tidak bisa tidur sampai keesokan harinya.
***
“makan lah,aku membuatkan bubur untukmu.”, Jong in datang kekamarku sambil membawa semangkuk bubur.
“Aku tidak mau makan.”
“Apa kau sudah gila? Kau tidak tidur semalam, sekarang kau juga tidak mau makan?”
“Pergilah, aku mau sendiri.”
“Makanlah buburnya, aku berangkat dulu ke sekolah.”
Aku masih bisa mendengar ucapan luhan tadi malam. Anggap saja tak pernah bertemu sebelumnya? Bagaimana bisa? Aku paham orang lain ingin menjauhinya. Tapi aku bukan mereka. Waktu itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya, aku tidak tahu pasti. Kurasa Luhan menyimpan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Aku tertidur.
“Yoomin, aku datang...eh? dia masih tidur? Inikan sudah jam 3 sore.”
“Min ji, itu kau?”, aku terbangun karena suaranya, aku baru tau sudah tertidur selama 7 jam.
“Kenapa bangun? Tidur saja lagi.”
“Tidak, aku sudah puas tidurnya.”
“Hei kau tau? Tadi ada anak baru di kelas kita, dia sangat cantik tapi sifatnya sedikit sombong.”
“Benarkah? Siapa namanya?”
“Park ga eun, pokoknya wajahnya seperti artis.hahaha”
***
“Setiap hari terasa begitu membosankan, tak ada yang menarik”, sudah 3 hari aku tak ke sekolah, nenek juga sudah dirumah. Hari ini aku akan pergi ke sekolah lagi. Nenek menyuruhku pergi ke sekolah dengan Jong in.
“Bagaiman keadaanmu?”, Jong in bertanya padaku.
“Sudah baikan, kaki ku juga sudah sehat. Hmmm..waktu itu terima kasih ya sudah datang mencari ku.”, Apa yang aku katakan?
“oh ternyata kau bisa juga berterima kasih?hahaha.”
“Kau meledekku?hahaha”, Jong in sebenarnya baik juga. Tapi terkadang agak menyebalkan. “Hei, kau tidak ke kelasmu? Jangan bilang kau akan mengantarku sampai kelas?”
“Siapa bilang aku mengantarmu? Ada yang harus aku lihat sebentar.”
“Aku masuk dulu.” Siapa yang dia lihat? Dia, anak baru itu kan? Kenapa Jong in ingin melihatnya?
***
“Aku Park ga eun, dan kau siapa?”, tiba-tiba anak baru itu menghampiriku dan min ji saat jam istirahat. Dia memang cantik seperti yang dikatakan min ji. Tapi kenapa dia mau berkenalan denganku?
“ah ya, aku jung yoo ki, senang berkenalan denganmu.”, Lalu anak baru itu pergi keluar tanpa mengucapkan apa-apa.
“Hei kenapa cuma kau yang diajaknya berkenalan? Kenapa aku tidak? Aku kan disebelahmu. Aneh sekali.”, ketus min ji.
“Min ji, temani aku ke perpustakaan ya? Aku harus mengembalikan buku ini.”
“ya baiklah. Ayo.”
Sesampainya di perpustakaan.
“Yoomin, aku mau baca buku dulu ya disana?”
“ya pergilah, nanti aku kesana.”. Deg! Aku melihat tempat dimana luhan biasa membaca buku seorang diri, dia disana dengan...anak baru itu! Kenapa mereka bisa begitu dekat? Aku cepat-cepat memalingkan wajahku. Apa dia melihatku. Semoga saja tidak. Setelah selesai mengembalikan buku, aku pergi mengambil salah satu buku dan duduk di sebelah min ji.
“ Kau kenapa? Seperti habis melihat hantu saja.”
“tidak, tadi aku di denda karena terlambat mengembalikan buku selama dua hari.hehehe.” sesaat kemudian aku teringat lagi Luhan dan anak baru itu. Apa hubungan antara mereka? Aku berusaha untuk melupakannya dan kejadian waktu itu.
“Yoomin, apa yang kau pikirkan, dari tadi kau cuma membaca halaman yang itu saja.”
“Ayo ke kelas.”
“Itu Jong in, kenapa dia ke sini?”
“Yoo ki, aku ingin bicara sebentar denganmu, ayo keluar.”
“Ada apa?”
“Kau harus pulang sekarang juga, tadi ayahku menelfon, dia bilang...nenek mu pingsan.”
“Apa? Nenek kenapa?”, Aku tak dapat membendung air mataku. Aku bergegas pulang.
***
Ternyata nenek punya penyakit jantung dan harus dirawat dirumah sakit di kota. Semoga nenek cepat sembuh. Kali ini Min ji yang menemaniku dirumah. Jong in datang sesekali saat malam hari. Aku keluar untuk memberinya teh hangat.
“Kau belum tidur?”, tanya Jong in.
“Belum, tapi min ji sudah tidur sejak tadi. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kau kenal dengan anak baru di kelas ku itu?”
“uhuukkk...YAKKKK!!! teh nya terlalu panas, kau mau membunuhku?”
“maaf. Jadi, siapa dia?”
“Dia juga termasuk orang yang harus kau hindari.”
“Kau selalu saja menyuruhku menghindari orang ini, jauhi orang itu. Memangnya kenapa kau bisa tau kalau orang itu berbahaya atau tidak?”
“Aku lahir dengan insting seperti itu. Aku bisa membedakannya hanya dalam sekali lihat. Siapa mereka, dan bagaimana sifat mereka.”
“Aku jadi merasa aneh. Kenapa orang disekitarku punya suatu kemampuan yang luar biasa? Min ji juga bisa melihat masa depan. Sepertinya cuma aku yang tidak punya apa-apa. Benar kan?”
“Tidak juga. Kau hanya belum menyadari apa yang kau punya. Karena kau terlalu bodoh untuk menyadarinya...hahaha.”
“Kau mau aku siram pakai teh ini? ih menyebalkan sekali! aku masuk.”
“Jangan lupa kunci pintu.”
***
Hari ini hujan lagi. Aku pergi ke ruang musik untuk bermain biola.
“Permainan biola mu sangat bagus.”
“oh, Park ga eun, sejak kapan kau berdiri di sana?”
“Sejak kau mulai memainkan biolamu tadi.”
“ah, aku masih belum mahir.”
“Aku benci hujan, bagaimana denganmu?”
“Karna disini sering hujan, aku jadi terbiasa. Kenapa kau benci hujan?”
“Karna kami tidak bisa apa-apa kalau hujan turun.”
“Kami?...”
“Hei, bagaimana kelihatannya cincin ini? Apakah jelek?”
“Tidak. Itu bagus sekali. Cocok denganmu.”
“Ini, cincin tunanganku dengan..Luhan. jangan sampai ada yang tau ya?”
Glekkkk...”a...ah, kau sudah tunangan?”
“Ya, aku dijodohkan orangtua kami, makanya aku pindah kesini, kau kenal luhan?”
“ah, tidak ju...”
“oh, kapan-kapan akan ku kenalkan dia padamu, dia dari kelas 2-E.”
“oh, iya.”, apa-apaan ini?
“Yoo ki, aku kembali ke kelas dulu ya. Oh iya, kita teman kan?”
“um...ya tentu saja.”, aku memaksa untuk tersenyum.
“kapan-kapan aku akan bercerita denganmu lagi. Bye.”
Aku terpaku beberapa saat setelah Park ga eun meninggalkan ruang musik. Kenapa hati ku sakit? Apa ini sebabnya dia tak ingin aku menemuinya lagi? Jahat sekali. Aku berusaha membendung air mataku.
***
“Yoomin, ayo ganti baju, pelajaran olahraga akan segera dimulai. Kau kenapa lagi? Seperti tak bernyawa.”
“Ya tunggu sebentar.”
Aku merasa seperti ditelan bumi. Tunangan ya? Apa itu? Apa artinya mereka nanti akan menikah? Ahhhhh, apa yang aku pikirkan?
Aku sudah selesai mengganti baju dan pergi ke lapangan di sekolah.
“Yoo ki, awaaassss!!!!” “kyaaaaaa.”
“braaakkkkkk.” Bola itu tepat mengenai kepalaku.
“kau baik-baik saja? Biar aku...”
“tidak min ji, aku saja yang mengantarnya ke ruang kesehatan.”
“park ga eun?”
Park ga eun mengantarku ke UKS.
“kau baik-baik saja? Tadi kau terlihat lesu. Ini, letakkan diatas kepalamu.”, dia memberiku kantong es untuk mendinginkan kepala ku.
“terima kasih.”
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Tidak, aku sedang memikirkan nenek ku yang sedang dirawat di rumah sakit.”
“Benarkah? Semoga dia cepat sembuh ya. Sekarang tidak apa kan aku tinggal?”
“Ya, terima kasih.”
“sama-sama.”
Park ga eun, dia cukup baik, kenapa Jong in juga melarang ku dekat dengannya? Tapi, aku juga merasa agak aneh dengannya. Akkkk, kepala ku benar-benar sakit.
Tiba-tiba saja, air mata ku keluar, tak bisa berhenti. Semakin deras, kenapa? Aku tidak akan menangis hanya karena dilempar bola. Tapi aku tak pernah merasa sesakit ini. Tangis ku meledak. Aku ketiduran.
“yoo mi...omo,luh...”
“sssttttt...”
“Kenapa orang aneh itu disini? kenapa dia pergi? Jangan-jangan...yoomi!!! ah, ternyata dia tidur. Aneh, apa yang dia lakukan disini?”
***
Setelah pulang kerumah...
“Apa Yoo ki sudah mendingan?”
“kau tenang saja Jong in, aku akan merawatnya. Hmmm, kau tidak tanya bagaimana kabarku?”
“Untuk apa?”
“Soal nya kau tak pernah menanyakan kabarku.”
“Memangnya kau kenapa? Untuk apa aku menanyakan kabarmu?”
“aargghhh, kau ini cuek sekali padaku. Menggemaskan!”
“Cewek aneh.”
“(putus asa)”
“yoomin!! Kau sudah baikan?”
“ya, aku sudah tidak apa-apa”
“oh ya, apa tadi kau dan luhan ngobrol di uks?”
“ngobrol dengan luhan di uks? Tidak ada. Memangnya kenapa?”
“tadi, sewaktu aku mau masuk untuk melihatmu, dia berdiri di dekat pintu, lalu dia pergi karena melihatku datang, sepertinya dia mengkhawatirkanmu yoomin.”
“benarkah? Mungkin dia ingin mengambil obat disana. Mana aku tau.”
“tidak mungkin begitu, kau saja waktu dia sakit kemarin sampai pergi kerumahnya.”
“jangan ingatkan aku tentang kejadian itu lagi min.”
“ah, maafkan aku.”
“tak apa. Aku hanya ingin melupakannya.”
***
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, rasanya baru kemarin musim semi, sekarang musim itu sudah datang lagi. Aku sudah naik kelas 3. Nenek telah pergi meninggalkanku untuk selamanya, sekitar dua bulan yang lalu karena sakit jantungnya. Sampai saat ini aku masih larut dalam kesedihan. Ibu pernah menyuruhku untuk kembali ke kota, tapi aku bilang aku akan tetap disini sampai aku tamat sekolah. Untung saja Min ji mau tinggal bersama ku disini namun kadang-kadang dia juga pergi menginap ke rumahnya.
Pagi itu dihalaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang melihat pembagian kelas di sebuah papan tulis.
“yoomin, bagaimana kalau kita tidak sekelas? Apa aku masih temanmu?”, min ji mulai ngelantur.
“apa yang kau katakan? Memangnya tidak sekelas jadi tidak teman lagi? Lagi pula kita masih bisa juga ketemu dirumah. Kau ini ada-ada saja Ji ki.”
“senang nya kau panggil aku begitu. Kenapa tidak dari dulu? Haha. Yuk kita lihat kesana juga.”
Setelah sibuk mencari-cari nama,
“Ji ki-ah, aku di kelas 3B, kau dimana?”
“Benarkah? Tunggu sebentar, yaaaa!!! Kita sekelas lagi! Ah syukurlah, aku tau kita tak akan terpisah.Yeah.” Min ji bersorak kegirangan seperti habis menang undian. “Tunggu dulu,hei Jong in juga sekelas! Lalu...park ga eun,huft...Yoomin, Luhan juga ada dikelas kita.”
“mmm...ayo ke kelas.”, kenapa Luhan juga di kelas 3B? Aku...tak berani lagi melihatnya.
“Yoo ki! Kita sekelas lagi? Wah, pasti akan menyenangkan, benarkan luhan?”
Park ga eun, sejak saat itu tak pernah lepas dari Luhan, sepertinya mereka selalu bersama. Bahkan sekarang ini Ga eun duduk disebelah Luhan di deretan paling belakang.
“um, mohon bantuannya.”, jawab Luhan sambil tersenyum.
“y..ya...aku juga.”, aku membalas senyum nya.
Aku dan Min ji pergi untuk mencari tempat duduk.
“yoomin, kita duduk di dekat Jong in saja disana.”
Aku duduk dibarisan ketiga di dekat dinding, dibelakangku ada Jong in dan disebelahku ada Min ji. Hari ini self study, karena guru-guru sedang rapat. Kelas jadi ribut, aku memutuskan untuk pergi ke ruang musik sendiri. Aku duduk didepan piano sambil menatap keluar jendela. Bosan. Aku menekan tuts-tuts piano itu secara asal, karena aku memang tak bisa memainkannya.
“Mau aku ajarkan?”, tiba-tiba ada suara orang dari belakang, aku tau itu suara siapa,
“Luhan? Ngggg...tidak, aku baru saja akan pergi ke kelas...”, aku benar-benar ingin pergi saat itu juga. Ketika aku sudah didekat pintu...
“Kau menghindariku kan? Aku tau ini salahku, tapi saat itu aku benar-benar tak ingin kau terluka...”
“Kau bahkan melukaiku.”, aku pergi meninggalkannya. Apa yang barusan aku katakan? Aku serasa ingin memukulkan kepalaku ini ke dinding. Sebaiknya aku pergi mencuci muka ke toilet, mungkin ini akan meredakannya.
“Yoo ki, kau dari mana? Tadi kulihat tidak ada di kelas?”, tak sengaja bertemu ga eun di sini membuatku semakin pusing.
“Aku baru saja dari ruang musik.”
“Sepertinya tadi Luhan bilang dia juga ke sana, apa kau melihatnya?”
“Ah ya, kebetulan ketika aku mau keluar, dia datang.”
“Benarkah? Oh ya, nanti malam aku mengadakan jamuan makan malam dengan keluarga Luhan, Ibuku juga menyuruhku untuk mengundang temanku. Tapi aku tidak punya teman selain kau, kau mau kan pergi kerumah ku nanti?”
ige bwoya??? Kenapa dia mengajakku kesana? Apa yang dia pikirkan?
“Maaf, hari ini aku ada urusan lain, jadi tidak bi...”
“Aku mohon, sekali ini saja, nanti aku akan menjemputmu ya?”
“Tapi...”
“Ayolah, apa kau tidak mau menjadi teman ku? Bukankah waktu itu kau bilang aku temanmu?”
“nggggg....”
***
Malam itu aku mulai panik, bagaimana ini? Aku tidak ingin pergi. Aku takut Luhan akan marah dan benci padaku.
“Yoomin, apa sebaiknya aku menemanimu? Kau tampak gugup.”
“Tidak apa Ji ki, aku akan baik-baik saja...”
“tok..tok..tok”, ada orang diluar. Siapa? Aku bergegas membukakan pintu.
“Park ga eun? Ka..kau sudah datang? Aku bahkan belum bersiap-siap. Dan siapa orang ini?”, aku kaget karena dia sudah datang menjemputku.
“Tidak masalah, dia akan mendandanimu.”
“Apa? Mendandaniku? Tu..tunggu....”
Mereka merias wajahku, dan membawakan aku baju gaun berwarna peach. Setelah selesai aku turun kebawah.
“haaaah...Yoomin-ah, kau cantik sekali!!!”, aku merasa malu dan sedikit tidak nyaman. Kenapa Ga eun melakukan ini untuk ku?
“Sudah siap kan? Ayo berangkat.”, kami naik mobilnya, dia memang orang kaya. Dimobil, aku bertanya pada ga eun.
“hmmm..kenapa kau melakukan ini untukku? Bukankah ini pestamu?”
“Karena kau temanku.”, dia menjawab singkat dan melihat keluar jendela mobil.
***
“Jong in? Kau sudah datang?”
“Ya, mana Yoo ki?”
“Ah...itu,, dia menyuruhku untuk tak mengatakannya padamu.hehehe”
“Aku sedang tak ingin bercanda. Cepat katakan dimana dia?”
“Dia baru saja pergi ke rumah ga eun untuk makan mal...he..hei, Jong in? Kau mau kemana?YAAKKKK?? Ada apa sih? Kenapa dia lari begitu?”
Aku pergi ke sarang monster (Jong in)
***
“Kita sudah sampai, turunlah.”, Park ga eun menyuruhku untuk keluar. Wow, rumahnya bagus dan besar sekali.
“I...ini rumah mu? Wahhh, bagus sekali.”
Aku berjalan mengikuti ga eun dari belakang, tapi aura aneh mulai menghantuiku, aku tetap tenang dan masuk kedalam rumahnya. Sepertinya semua keluarga nya sudah menunggu didalam dan semua mata tertuju pada kami. Kenapa mereka menatap ku seperti itu? tidak, ada satu orang yang menatapku terkejut, Luhan...
“Maaf, aku terlambat.”, ucap ga eun tersenyum. “Dia teman yang aku bicarakan, Jung Yoo ki.”
“Kau membawa domba kecil kesini ga eun? Sepertinya lezat.hahaha”, ucap seorang perempuan paruh baya.
Apa yang mereka katakan? Aku tidak mengerti. Aku lihat Luhan berjalan ke arah kami, benar, dia pasti akan marah padaku. Maaf. Tapi tiba-tiba, Luhan ditahan oleh seorang pria.
“Luhan, kau mau merusak selera makan ku malam ini? Duduklah lagi.”
“Lepaskan aku!!! Yoo ki, Cepat pergi!!! Paman, biarkan dia pergi, aku mohon!!!!”
Aku begitu terkejut, Luhan berteriak sambil menangis. Aku mulai mengerti situasinya, mereka ingin memakanku? Mereka bukan manusia. Ga eun menahanku ketika aku ingin kabur.
“Ga eun, kenapa kau melakukan ini padaku? Siapa kau sebenarnya?”
“Kau terlalu polos Yoo ki, aku begitu menyukaimu sebagai teman, aku juga menyukai mu sebagai makanan penutup hari ini.hahaha.”
Dari dalam tubuhnya kini , aku bisa merasakan makhluk mengerikan yang sedang kelaparan. Luhan berusaha melepaskan dirinya yang dari tadi ditahan. Luhan berlari ke arah ku, meraih tanganku dan kabur keluar, dibelakang, ga eun dan mungkin beberapa saudaranya mengejar kami.
“Yoo ki, buat hujan turun!”, Tiba-tiba Luhan mengatakan sesuatu saat kami berlari.
“Apa maksudmu? Mana aku bisa?”
“Pikirkan hal yang bisa membuatmu takut, sangat takut. Cepatlah!!”
Kenapa dia mengatakan hal yang aneh? Sesaat aku ingat kata-katanya dulu, “jangan pernah merasa bosan dan takut, karna langit akan menangis”, aku berusaha membayangkan hal yang bisa membuatku takut, seperti sekarang ini, aku mati ketakutan karena dikejar oleh makhluk buas. Gerimis?
“kau berhasil, ini akan memperlambat mereka...dan juga aku.”
Tiba-tiba hujan turun dengan lebat, sepertinya mereka sudah jauh, tunggu, kenapa Luhan menjadi lemah, dia seperti kehilangan tenaga.
“Luhan, ada apa? Kau tidak apa-apa? Berhentilah sebentar.”, Dia tampak pucat, sama seperti ketika aku melihatnya dari mengantarku pulang kerumah waktu itu. Kemudian terdengar suara yang memanggil namaku.
“Jong in!!! Apa itu kau? Aku disini!!!”
“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”
“Ya, tadi kami dikejar oleh makhluk mengerikan itu, sepertinya mereka tak berdaya ketika terkena hujan.”
“baiklah, aku akan mengurus mereka dulu, kau carilah tempat untuk berteduh.”
“Ya,hati-hati.”
Aku memapah Luhan ke sebuah pondok didekat sana.
“Kau baik-baik saja?”
“mmm..”
“Terima kasih sudah menyelamatkan ku, ternyata kau takut terkena hujan ya...? dan...kau serigala...”
“Ya, maaf aku tak bisa menceritakannya padamu. Dulu mereka memaksaku untuk bertunangan dengan Park ga eun, aku tidak mau, karena aku punya seseorang yang aku sukai, mereka pernah mengancamku, jika aku tidak mau maka gadis itu akan mereka lenyapkan. Suatu hari, tanpa aku ketahui, gadis itu pergi ke rumah ku sendirian, saat ditengah hutan mereka menjebak dan membunuhnya. Aku menemukannya berlumuran darah dan aku memeluk nya. Karena itu baju ku juga terkena darahnya...”
Tanpa sadar, air mataku sudah jatuh.
“Jadi kau marah waktu aku datang kerumahmu sendiri itu...”
“Ya...waktu itu mereka gagal menangkapmu, jadi sepertinya mereka juga kembali merencanakannya tadi.”
Awalnya aku begitu terkejut menyadari kalau mereka adalah wolf. Tapi Luhan tidak seperti mereka, dia baik. Dia juga bilang kalau dia dan orang tua nya tidak menyerang manusia. Syukurlah.
***
Beberapa bulan telah berlalu, setelah kejadian itu, aku dan yang lainnya berusaha menghilangkan rumor buruk tentang Luhan di sekolah. Sepertinya cukup berhasil karena kini luhan mulai membuka diri lagi. Dia juga sering memainkan piano di acara sekolah dan mengajar less piano di ruang musik. Park ga eun? Jong in bilang, gadis itu tidak akan muncul lagi disekolah dan desa ini. Sangat melegakan.
“Yoomin, 3 hari lagi kita akan ujian akhir dan tamat. Kau mau melanjutkan ke mana?”
“Aku masih belum tau. Aku ingin jadi pemain biola. Tapi ibu menyuruhku untuk masuk ke sekolah bisnis. Kau bagaimana?”
“Aku ingin ikut denganmu juga. Aku tidak mau pisah dari mu yoomin.”
“Hei, mana bisa begitu? Kau harus melanjutkan ke tempat yang kau inginkan juga.”
“Aku tidak mau...weeeekkk,hahaha”
“Hei, ayo ke ruang musik.”
Seperti biasa, saat pulang sekolah, kami mampir sebentar ke ruang musik untuk melihat Luhan mengajar piano ke beberpa siswa. Disana juga ada guru seni yang juga mengajar piano dengan Luhan. Aku melihat nya dari luar jendela di koridor.
“Hari ini adalah hari terakhir Luhan mengajar kalian bermain piano, karena sebentar lagi akan ada ujian bagi anak kelas tiga, dan selain itu Luhan juga sudah diterima di sebuah universitas di Paris tanpa tes masuk, dia akan belajar tentang musik disana selama tiga tahun.”, Deg!
Dia tak pernah memberitahuku tentang ini. Kenapa? Aku terdiam disana, seperti nya dia melihatku, karena mendengar suara Min ji yang ada disampingku. Aku segera pergi dari sana, tapi dia mengejarku.
“Yoo ki, tunggu sebentar.”, Aku berhenti dan berbalik.
“Ah itu selamat ya?”, Aku berusaha agar tak menangis, “sejak kapan kau tau kalau kau diterima disana?”
“sejak 4 bulan yang lalu, tapi aku tidak berani mengata...”
“Jadi kapan kau akan mengatakannya padaku?”
“mmm, saat selesai ujian nanti. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Kau pikir aku akan marah? Tentu saja kau harus pergi. Inikan cita-citamu?, aku berusaha untuk memberinya semangat dan menahan rasa sedih ku.
“Itu...kau mau kan menungguku selama tiga tahun? Aku akan kembali kesini setelah lulus.”
Aku terkejut mendengarnya, “um, ya, aku akan menunggumu.”, lalu dia memberiku sebuah kalung.
“Kalung itu akan menjagamu. Dan...tidak akan ada laki-laki lain yang mau mendekatimu selain aku.”
“eeeh?”
“hahaha, aku hanya bercanda.”
“YAAKKKK!!! Awas yaaaaa?”
*The end*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar